;
Tampilkan postingan dengan label gmni surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gmni surabaya. Tampilkan semua postingan

Gerakan Mahasiswa

Sejenak teringat waktu menjalani study sebagai mahasiswa di salah satu Universitas swasta di Surabaya angkatan tahun 2001, momentum-momentum penting tidak luput dari analisis kita, tidak luput dari peranan kawan-kawan waktu itu, dulu teman-teman aktivis gerakan seangkatanku ketika diskusi selalu melontarkan kalimat ‘kita adalah agen perubahan, kita yang selalu membela rakyat kecil yang tertindas’. Hali ini tidak luput dari peranan perjuangan dan kesejarahan kawan-kawan gerakan semenjak negeri ini belum merdeka. Kita akan melihat kembali kesejarahan dari generasi ke generasi gerakan mahasiswa di Indonesia.

Memang keberadaan mahasiswa di tanah air, terutama sejak awal abad ke dua puluh, dilihat tidak saja dari segi eksistensi mereka sebagai sebuah kelas sosial terpelajar yang akan mengisi peran-peran strategis dalam masyarakat. Tetapi, lebih dari itu mereka telah terlibat aktif dalam gerakan perubahan jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebagai anak bangsa yang secara sosial mendapat kesempatan lebih dibandingkan dengan saudaranya yang lain, mahasiswa kemudian menjadi penggerak utama dalam banyak dimensi perubahan sosial politik di tanah air pada masanya. Aktivitas mahasiswa yang merambah wilayah yang lebih luas dari sekedar belajar di perguruan tinggi inilah yang kemudian populer dengan sebutan “gerakan mahasiswa”.

Dengan demikian, gerakan mahasiswa merupakan sebuah proses perluasan peran mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya gerakan mahasiswa dengan perannya yang signifikan dalam perubahan secara langsung akan membongkar mitos lama di masyarakat, bahwa mahasiswa selama ini dianggap sebagai bagian dari civitas akademika yang berada di menara gading, jauh dari persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Disinilah letak pentingnya sebuah gerakan dibangun, yakni untuk secara aktif dan partisipatif berperan serta dalam proses perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Selain itu, sebuah gerakan yang dibangun juga akan meningkatkan daya kritis mahasiswa secara keseluruhan dalam melihat berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun internasional.

Sejarah menunjukkan bahwa selain aktivitas gerakan yang berupa tuntutan-tuntutan terhadap persoalan internal sebuah perguruan tinggi, gerakan mahasiswa juga mampu menemukan momentum-momentum besar yang menyebabkan keterlibatannya dalam perubahan politik nasional menjadi sangat penting. Setelah gerakan pada masa pra kemerdekaan, gerakan mahasiswa tahun 1966 yang meruntuhkan Orde Lama dan menopang lahirnya Orde Baru hingga gerakan penggulingan rejim orde tersebut pada 1998 lalu menunjukkan peran mahasiswa yang signifikan dalam perubahan sosial politik di tanah air. Sebenarnya bangsa Indonesia mempunyai tradisi meromantiskan kehidupan kaum muda dan mahasiswa. Hal ini terlihat dari cara kita memandang sejarah modern bangsa kita, dengan membaginya dalam periode-periode waktu menurut momentum-momentum besar yang melibatkan pemuda dan mahasiswa dalam perubahan nasional. Periodisasi sejarah gerakan mahasiswa dan pemuda Indonesia dalam angkatan-angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, dan seterusnya hingga 1998 juga bisa diartikan sebagai pengakuan terhadap peran sentral mahasiswa dalam perkembangan dan perubahan perjalanan bangsa. Namun demikian, ada tidaknya “prestasi sejarah” tersebut tidak menjadi indikator utama keberhasilan gerakan mahasiswa. Karena pada dasarnya, gerakan mahasiswa merupakan proses perubahan yang esoterik. Ia akan terwujud dalam sebuah idealisme dan cita-cita gerakan dalam menciptakan sebuah masyarakat yang lebih baik dan lebih adil.

Harus diakui, mahasiswa hanyalah salah satu aktor yang terlibat dalam setiap momentum perubahan yang terjadi. Walaupun demikian, gerakan mahasiswa dalam setiap kurun sejarah selalu mampu menempatkan dirinya menjadi aktor utama yang berada di garda depan perubahan. Hal ini yang membedakan mahasiswa dengan aktor perubahan lainnya, seperti kalangan cendekiawan, politisi, militer, dan elemen masyarakat lainnya. Keadaan ini sangat dimungkinkan karena posisi mahasiswa yang dianggap netral dan belum bersentuhan langsung dengan berbagai kepentingan politik praktis. Selain itu, sebagai kaum muda yang masih belum mempunyai ketergantungan dan tanggung jawab ekonomi kepada keluarga serta posisi mereka sebagai calon intelektual, maka peran sebagai penggagas ide awal, baik di tingkat praksis maupun wacana, menjadi sangat signifikan. Tetapi, banyak studi menyebutkan bahwa kondisi psikologis mereka sebagai kaum muda yang dinamis dan anti kemapanan serta rasa percaya diri yang tinggi sebagai mahasiswa, menjadi faktor penting dalam menempatkan mahasiswa di garda depan perubahan. Sementara elemen lain dalam masyarakat sering hanya menjadi kelompok pengikut, setelah perubahan berlangsung.

Pada tahun 1900 hanya ada lima mahasiswa Indoensia yang belajar pada pendidikan tinggi di negeri Belanda, tetapi pada tahun 1908 jumlah mahasiswa Indonesia sudah 23 orang, dan pada tahun inilah Indische Vereniging dibentuk (John S. Furnivall, 1939). Walaupun dimulai dengan sederhana, organisasi ini memiliki arti dalam dua hal. Pertama, ia membuka pintu keanggotaan untuk semua mahasiswa dari Hindia Belanda, tidak seperti Budi Utomo yang sekalipun didirikan pada tahun yang sama, lambat laun menjadi suatu organisasi yang beranggotakan orang Jawa saja. Pilihan ke arah ini oleh Indische Vereniging tidaklah kebetulan, karena pada mulanya beberapa para pendirinya mengusulkan untuk membuat perkumpulan tersebut menjadi cabang Budi Utomo di negeri Belanda. Tetapi, walaupun mayoritas mahasiswa Hindia Belanda di Nederland itu orang Jawa, namun usul itu tidak diterima oleh mereka yang berasal dari Sumatera, Minahasa, Maluku, dan yang lainnya. Akibatnya, Indische Vereniging mampu mengatasi hambatan etnosentrisme. Namun demikian, ternyata masih diperlukan dua dasawarsa bagi para pemimpin nasionalis di Hindia Belanda untuk menjadi sadar akan persatuan nasional Indonesia.

Kedua, Indische Vereniging bukan hanya sekedar organisasi persahabatan seperti disebut oleh beberapa penulis mengenai sejarah Indonesia modern. Pasal dua dari anggaran Dasarnya menetapkan sebagai berikut: “memperbaiki atau meningkatkan kepentingan bersama orang Hindia di Negeri Belanda dan memelihara hubungan dengan Hindia Belanda”. Pada bulan Januari 1909 pengadilan lokal di kota Leiden mempersoalkan istilah “orang Hindia” (Indier) dan Soemitro, sekretaris organisasi pada waktu itu, harus menghadap untuk memberi penjelasan mengapa perkataan tersebut digunakan dan bukan kata yang lazim dipakai, yaitu “Inlander” (pribumi), walaupun dengan konotasi yang diskriminatif (Nagazumi, 1977).

Dalam sejarah perjalanannya, Perhimpunan Indonesia terbukti mampu mengakomodasikan semua orang Hindia secara egaliter dan tanpa diskriminatif—berbeda dengan Budi Utomo—menjadi awal bangkitnya semangat perlawanan mahasiswa Indonesia. Bahkan dari tahun 1923 hingga tahun 1930 organisasi ini merubah dirinya dari organisasi mahasiswa menjadi organisasi politik, sebuah metamorfosis yang sangat berani waktu itu. Semangat mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia kemudian semakin mengkristal dalam berbagai gerakan perubahan di tanah air dengan lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928, dan kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Setelah Indonesia merdeka, peranan mahasiswa mulai menonjol kembali terutama pada jaman Demokrasi Terpimpin. Pada masa itu tiga kekuatan, yakni mahasiswa, Presiden Sukarno dan Angkatan Darat merupakan aktor-aktor yang menentukan. Angkatan Darat sejak mengumumkan SOB pada bulan Maret 1957, berhasil menciptakan transformasi dan konsolidasi politik internal. Sehingga secara politik menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Hal ini kemudian diperkuat oleh konsepsi Jenderal Nasution tentang middle way (jalan tengah) yang kelak menjadi konsep dwi fungsi ABRI (sekarang TNI). Sedangkan Soekarno, sejak mengumumkan dekrit 5 Juli 1959, posisinya semakin sentral. Partai politik yang di masa Demokrasi Parlementer menjadi aktor dominan, pada era demokrasi terpimpin ini semakin tergeser perannya. Soekarno kemudian berhasil menjadi faktor penyeimbang (balance of power) antara Angkatan Darat dan kekuatan politik lain, terutama PKI yang jelas berseberangan dengan Angkatan Darat dan mahasiswa (Sudjana, 1995).

Peran mahasiswa pada era ini tumbuh bersamaan dengan terbentuknya Badan Kerjasama Pemuda-Militer. Badan inilah yang menjadi cikal bakal dan merupakan forum pertama bagi gerakan mahasiswa untuk menjadi partisipan politik atas namanya sendiri. Dibandingkan masa Demokrasi Parlementer peran seperti ini hampir-hampir mustahil, karena pada saat itu posisi mahasiswa selalu berada dalam subordinat partai politik dengan ideologi dan alirannya masing-masing. Kemelut ekonomi dan politik pada tahun 1966 dan dibarengi dengan usaha kudeta PKI pada tanggal 30 September 1966 (G 30 S) menyebabkan terjadinya situasi yang chaos. Para pemimpin mahasiswa yang tergabung dalam KAMI dan KAPPI terus menjalin kerjasama erat dengan militer, terutama pimpinan Angkatan Darat, yang kemudian menaikkan Jenderal Suharto dan lahirlah Orde Baru.

Semasa Orde baru berkuasa, tercatat banyak momentum politik yang melibatkan mahasiswa. Misalnya tuntutan mahasiswa tahun 1974 dengan peristiwa “Malari” dan tahun 1978 yang meminta Presiden Suharto mundur. Kedua peristiwa tersebut berbuntut pada ditangkap dan diadilinya banyak aktivis mahasiswa. Sejak itu, pemerintahan Suharto menerapkan langkah jitu untuk membungkam setiap gerakan mahasiswa dengan melakukan depolitisasi mahasiswa dan mengintegrasikan kanpus menjadi bagiand dari birokrasi negara. Kebijakan ini tentu saja berakibat pada penghancuran infrastruktur politik mahasiswa. Kegiatan mahasiswa kemudian menjadi bagian dan dikontrol oleh birokrasi kampus (Rektorat) yang merupakan kepanjangan tangan birokrasi negara. Sejak saat itu, mahasiswa kita tidak terlibat lagi dalam politik kampus dan nasional, bahkan cenderung merasa dirinya tidak bermakna dalam politik. Dalam banyak hal berkembang sinisme, apatisme dan bahkan “inertia”. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan.

Lebih parah lagi, kebijakan deideologisasi partai politik, ormas dan lembaga kemahasiswaan dengan diterapkannya azas tunggal Pancasila pada tahun 1985 membuat dinamika gerakan mahasiswa menjadi lesu. Hal ini tidak saja dialami oleh lembaga-lembaga mahasiswa intra kampus bentukan Orde Baru, juga dialami oleh organisasi-organisasi ekstra kampus seperti HMI, PMII, GMNI, PMKRI, GMKI, dan lain-lain. Dalam keadaan seperti ini, model-model gerakan berubah total dari pola jalanan (demonstrasi) ke pola-pola yang lebih “aman” melalui kajian-kajian intelektual. Maka muncullah banyak kelompok-kelompok studi di kampus-kampus sebagai ajang aktualisasi akan fenomena yang terjadi. Keadaan ini berlangsung hingga akhir tahun 1997-an.

Sekitar awal tahun 1990-an, gerakan mahasiswa menemukan bentuknya kembali di bawah represifitas negara yang belum surut. Mungkin banyak orang mengira bahwa gerakan mahasiswa telah mandeg, tetapi ternyata tidak. Pola-pola “aman” yang diterapkannya dengan sekali-kali melakukan model jalanan, terutama di beberapa kota besar, ternyata cukup menjadi investasi menghadapi perubahan politik nasional pada akhir 1997 saat Indonesia dilanda krisis moneter.

Sekitar awal tahun 1990-an, gerakan mahasiswa menemukan bentuknya kembali di bawah represifitas negara yang belum surut. Mungkin banyak orang mengira bahwa gerakan mahasiswa telah mandeg, tetapi ternyata tidak. Pola-pola “aman” yang diterapkannya dengan sekali-kali melakukan model jalanan, terutama di beberapa kota besar, ternyata cukup menjadi investasi menghadapi perubahan politik nasional pada akhir 1997 saat Indonesia dilanda krisis moneter. Tidak banyak lembaga mahasiswa cukup berani dan eksis dalam gerakan tersebut.

Menjelang akhir tahun 1997 saat Indonesia dilanda krisis moneter dan diikuti dengan berbagai krisis lainnya, para aktivis mahasiswa semakin memantapkan posisinya untuk melakukan gerakan menuntut Soeharto mundur. Pada saat itu, muncul banyak sekali elemen-elemen aksi mahasiswa yang bersifat instan dengan mengusung warna ideologi masing-masing. Namun, satu hal yang mempersatukan mereka adalah keinginan bersama untuk menjatuhkan rejim totaliter Soeharto. Didukung oleh berbagai demonstrasi besar-besaran di berbagai kota di tanah air, gerakan ini kemudian mengkristal menjadi gerakan massa. Sayangnya, gerakan massa rakyat tersebut diwarnai dengan berbagai kerusuhan, terutama di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, yang justru mencoreng citra gerakan mahasiswa itu sendiri. Walaupun demikian, tekanan perubahan yang dahsyat pada waktu itu memaksa Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998. Di sinilah mahasiswa bersama elemen masyarakat lainnya—kecuali militer—berperan sangat sentral dalam menggulingkan rejim Orde Baru.

Kalau pada tahun 1966 mahasiswa bekerjasama dengan militer dalam menggulingkan Orde Lama, maka pada tahun 1998 mahasiswa justru menjadikan militer sebagai musuh bersama (common enemy) yang dianggap anti reformasi. Demikianlah, momentum perubahan politik nasional pada 1998 yang terkenal dengan istilah “gerakan reformasi” tidak serta merta membawa perubahan yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat. Kekuatan anti reformasi Orde baru masih banyak bercokol di Partai Golkar dan TNI. Dus, setelah empat tahun rejim Soeharto dijatuhkan, kemudian berturut-turut penguasa berganti dari Habibie, Abdurrahman Wahid, dan kini Megawati Soekarnoputri, perubahan yang sejak awal dicita-citakan mahasiswa belum banyak memenuhi harapan. Di sinilah peran gerakan mahasiswa era selanjutnya harus dimainkan, yakni menuntaskan berbagai agenda reformasi yang belum berjalan dan melawan segala bentuk penindasan di negeri ini.
| | 2 komentar Read More...

KISRUH ANTAR KADER GMNI SURABAYA

Inna Simpang, 17 April 2008

Merdeka ……………………..!
GMNI Jaya ……………………!
Marhaen Menang ………!

Salam perjuangan untuk kawan-kawan GMNI seluruh Indonesia

Sedikit kami akan mengulas keadaan GMNI di Surabaya enam bulan terahir ini, hal ini akan menjadi refleksi bagi kami untuk melakukan gerakan kedepannya yang lebih baik. Konflik struktural yang mana terdapat dualisme kepemimpinan di DPC GMNI Surabaya tidak terselesaikan, hal menyebabkan pemfaksian dalam pola gerakan di Surabaya. Kader yang tidak pernah mengharapkan konflikpun terbawa dalam arus dualisme tersebut, alhasil, selama perjalanan gerakan GMNI di Surabaya tidak dapat menyatukan visi dalam menyikapi momentum lokal maupun nasional, tidak dapat konsentrasi terhadap kerja kerja politikbaik taktis maupun strategis yang seharusnya dilakukan bersama.dalam hal pembasisan, pengideologisasian, serta pemberdayaan marhaen.jadi tidak heran kalau ada orang yang melontarkan pertanyaan....kamu itu kader GMNI-nya sapa, si A atau si B?.
Sangat ironi, bagaimana GMNI mampu menyatukan kaum Marhaen Indonesia??? Dengan ukuran menyatukan GMNI saja belum mampu. atau bisa saja mampu tapi mungkin karena muncul kepentingan politis, sehingga tidak disatukan. Gagasan persatuan yang muncul dari kader-kader GMNI Surabaya pada awalnya ingin menciptakan kesamaan pola gerakan di Surabaya pada awalnya ingin menyamakan pola gerakan di GMNI Surabaya dengan logika bahwa harus ada penyatuan struktural maupun kultural dengan konsolidasi antar komisariat di Surabaya serta kedua DPC yang ada, namun yang terjadi adalah kerja-kerja perluasan jaringan dilingkup kepartaian di Surabaya, yang dilakukan oleh elit-elit DPC untuk kepentingan pribadi dan faksinya, bukan untuk kolektif DPC, karena pemaknaan bagi kader yang pragmatis bahwa konfercab merupakan media sumber menghasilkan kekuasaan yang lebih tinggi. Berangkat dari amanat kongres persatuan di pangkal pinang, secara langsung memberikan petunjuk bagi kader GmnI khususnya kota Surabaya bahwa perlunya persatuan struktural maupun kultural dengan menyelenggarakan konfercab persatuan agar tercipta kesamaan pola gerak di GmnI Surabaya, akan tetapi hal tersebut tidak lebih hanya dijadikan ajang perebutan kekuasaan, sehingga konfercab yang pada awalnya merupakan konsep persatuan tidak dapat terealisasi. Gagasan persatuan yang kami gagas pada awal tidak membuahkan hasil yang maksimal.
Konferensi cabang GMNI Surabaya merupakan titik klimaks dari upaya rekonsiliasi secara kultural maupun Struktural yang terjadi pada DPC GMNI Surabaya, namun tujuan dan maksud mulia tersebut terciderai sehubungan dengan diadakannya Konferensi Cabang GMNI Surabaya yang dilaksanakan pada tanggal 27-29 Juli 2007 yang bertempat di Wisma Transmigrasi Surabaya. Dalam konferensi tersebut terbentuklah struktural DPC GMNI Surabaya periode 2007-2009 dimana ketua terpilihnya  dari Komisariat FIsip Unair , sedangkan prosees dan mekanisme pemilihan yang terdapat dalam pelaksanaan konferensi tersebut tidak berdasarkan AD/ART sebagai aturan tertinggi organisasi. Karena konferensi tersebut telah melanggar AD/ART dan 18 Komisariat (tingkat fakultas dalam kampus) dari 21 komisariat defenitif menganggap konferrensi cabang tersebut tidak sah, akan tetapi 9 komisariat yang menolak konferensi cabang tertanggal 27-29 Juli tersebut melaksanakan konferensi cabang pada tanggal 23 Desember 2007 di Graha Wiyata Lt. 9 Universitas 17 Agustus 1945, serta mengahasilkan struktur Dewan Pimpinan Cabang GMNI Surabaya periode 2007-2009, dimana Hendri Ansori terpilih sebagai ketua DPC Surabaya yang berasal dari Komisariat Besar (Kombes) Untag Surabaya.
Pada hari kamis tanggal 17 April 2007 (kemarin) salah satu DPC GMNI Surabaya (Hasil Konfercab Tanggal 27-29 Juli 2008) melaksanakan pelantikan yang dihadiri oleh dua orang perwakilan presidium GMNI di hotel inna simpang, akan tetapi komisariat-komisariat yang tidak sepakat terhadap dualisme menganggap bahwa persatuan struktural dan kultural di GMNI di Surabya belum selesai, jadi dari sini sudah jelas bahwa presidium tidak mempunyai itikad baik pada penyelesaian permasalahan GMNI di Surabaya, namun saat komisariat hadir dan ingin membacakan Surat Keputusan Bersama (SKB) Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya, pada saat berjalannya pelantikan DPC tersebut terjadi aksi pemukulan oleh beberapa anggota DPC GMNI Surabaya yang akan dilantik, sehingga terjadi keributan dalam ruangan tersebut. Korban pemukulan tersebut adalah sebastian dari kader GMNI Komisariat Ekonomi Unair, setelah itu korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Genteng, Surabaya, berkas perkara masihdalam proses kepolisian. Dalam ruangan tersebut juga memakan korban, yakni Anjar dari Komisariat Psikologi Untag, Agung dari Komisariat FIS Unesa, namun korban tersebut tidak sempat melaporkan ke kepolisian karena langsung dibawa ke kampus. Berikut ini kronologis penolakan Surat Keputusan Bersama (SKB) Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya yang disertai tindak kekerasanpada acara Pelantikan DPC GMNI Surabaya, Hotel Inna Simpang, 17 April 2008 :

17.00 Wib Wakil dari Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya menemui Presidium GMNI guna membahas penyelesaian dualisme kepemimpinan serta konflik di tubuh GMNI Surabaya. Pertemuan tersebut tidak mendapatkan itikad baik dari Presidium GMNI dalam menyelesaikan persoalan tersebut, serta cenderung mempunyai kepentingan politik. Hal ini ditunjukkan dengan sikap Presidium GMNI yang tidak menyepakati Surat Keputusan Bersama (SKB) Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya. Wakil dari Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya yang gagal menyampaikan aspirasinya kepada Presidium GMNI kemudian menunggu dimulainya prosesi pelantikan.

19.00 Wib Rangkaian acara pelantikan dimulai. Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya memasuki ruangan pelantikan. Pada saat sesi pelantikan, satu perwakilan dari Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya yaitu Sebastian, mengajukan interupsi. Maksud interupsi tersebut adalah ingin membacakan penolakan Surat Keputusan Bersama (SKB) Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya. Baru dua patah kata Surat Keputusan Bersama (SKB) tersebut diucapkan, tiba-tiba panitia merampas mic dari tangan Sebastian. Kemudian terjadi aksi dorong oleh panitia. Setelah itu perwakilan-perwakilan Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya yang lainnya hendak melerai aksi tidak simpatik yang dilakukan oleh panitia. Namun tindakan tersebut direspon panitian yang lainnya dengan sangat emosional. Sehingga terjadilah aksi pemukulan terhadap Sebastian oleh panitia yang berjumlah lebih dari 4 orang. Sebastian berusaha diamankan kawan yang lainnya. Panitia kembali merespon secara berlebihan dengan memukul kawan yang bernama Anjar dari Komisariat Psikologi Untag dan Agung dari Komisariat FIS Unesa. Aksi saling dorong pun terjadi hingga mengeluarkan paksa hampir 29 orang kader perwakilan Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya yang berada didalam ruangan.

19.30 Wib Sebastian Korban yang merupakan kader GMNI Komisariat Ekonomi Unair melaporkan tindakan anarkis panitia pelantikan DPC GMNI Surabaya ke Polsek Genteng, Surabaya. Setelah melaporkan tindakan tersebut, perwakilan Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya kembali ke kampusnya masing-masing dengan membawa kekecewaan terhadap sikap Presidium GMNI dan Panitia Pelantikan DPC GMNI Surabaya.

Berikut ini point-point Surat Keputusan Bersama (SKB) Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya, yaitu antara lain :
1. Carateker -kan kedua DPC GMNI Surabaya hasil Konfercab 27-29 Juli 2007 dan 23 Desember 2007.
2. Menuntut Konfercab Persatuan ulang DPC GMNI Surabaya selambat-lambatnya 30 hari semenjak ditetapkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya, yang tertanggal 17 April 2008.
3. Menuntut Presidium GMNI agar bersikap netral terhadap permasalahan GMNI Kota Surabaya.

Atas terjadinya permasalahan di tubuh GMNI Surabaya yang belum terselesaikan hingga menimbulkan bentrok antar kader GMNI pada acara tersebut, maka dengan ini, kami Komisariat-komisariat GMNI Kota Surabaya mengutuk sikap anti-demokrasi dan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh DPC GMNI Surabaya, serta menuntut :

1. Tolak SK Presidium GMNI terhadap pengesahan DPC GMNI Surabaya.
2. Pembekuan DPC GMNI Surabaya pada pelantikan di Hotel Inna Simpang Surabaya, 17 April 2008.
3. Hentikan tindak kekerasan dalam berorganisasi.
4. Hentikan politisasi organisasi yang terjadi di tubuh DPC GMNI Surabaya.


PEJUANG PEMIKIR - PEMIKIR PEJUANG
| | 0 komentar Read More...

Hendri Ansori

Seditkit Tentang Profileku
Profile ini saya tulis untuk melengkapi blog saya yang hendria.com beserta Blog saya yang lainnya.

Orang tua saya memberi nama saya Hendri Ansori, lahir di sebuah kota Kecil di Jawa Timur yang bernama Sumenep, Saya Sekolah TK, SD dan SMP sama Seperti orang lain pada umumnya, tahun 2000 saya meneylesaikan pendidikan menengah tepatnya di SMU Negeri 2 Sumenep, setelah itu tahun 2001 saya melanjutjkan ke dunia perkuliahan di Jurusan Teknik Mesin Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, mulai saat itu saya menetap di Surabaya, dan semenjak saat itu pula saya banyak belajar tentang dunia yang sebelumnya tidak pernah saya sentuh.

Pada tahun 2003 saya mengikuti sebuah organisasi ekstra kampus yang dinamakan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dari Komisariat Teknik Untag, tahun 2005 saya dipercaya sebagai Ketua GMNI Komisariat Teknik, hal itu satu berjalan dengan baik, setelah sebagai ketua komisariat teknik selesai tahun berikutnya yakni tahun 2006 kawan-kawan Untag memberikan kepercayaan kepada saya sebagai Ketua GMNI Komisariat Besar (KOMBES) Untag Surabaya periode 2006-2007, selanjutnya kawan-kawan juga mempercayai saya sebagai Ketua GMNI Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Surabaya Kongres Luar Biasa (KLB) periode 2007-2009.

Pada tahun 2009 saya juga dipercaya sebagai Sekretaris Pusat Study Untuk Demokrasi Ekonomi dan Keadilan Sosial (PUSDEK) sampai sekarang, yang bertempat di Surabaya.

Pada prinsipnya menulis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh waktu yang tidak singkat untuk memahami semua itu 'hehehe alay', tapi kebetulan saya merupakan salah satu dari orang - orang yang memiliki hobby membaca dan menulis 'kayak siswa aja'.

Blog ini berisi berbagai tulisan saya dengan berbagai kategori ; Artikel Sejarah, Artikel Ekonomi, Artikel Sosiologi, Dunia Filsafat, sampai Tentang Politik, serta beberapa tulisan kawan - kawan saya, dan sengaja saya posting untuk membagi ilmu pengetahuan kepada siapa saja yang membutuhkannya sebagai referensi, karena saya tidak mau disebut sebagai intelektual salon yang memperdebatkan sesuatu tanpa tahu arahnya, bagi saya ilmu pengetahuan tidak akan berguna jika tidak diterapkan dan disebarkan.

Jika kawan - kawan ingin lebih deket dengan saya silahkan berteman lewat Facbook saya Klik disini atau twitter disini. hehehe Promosi.

Mungkin itu saja sepatah dua patah kata, jika kawan - kawan membutuhkan referensi silahkan dibaca. okey saya ucapkan Selamat Membaca.

Salam Demokrasi... Terima Kasih.
| | 10 komentar Read More...