;
Tampilkan postingan dengan label sejarah kerajaan di indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah kerajaan di indonesia. Tampilkan semua postingan

Sejarah Kekuasaan Kerajaan Aceh

Oleh Hendri Ansori
Pada awal abad ke XVII, untuk beberapa waktu lamanya, Aceh muncul sebagai Negara yang paling kuat, makmur dan beradab di kawasan tersebut. Saat kedatangan orang-orang Portugis di Malaka, Di seberang selat tersebut, Aceh sedang tumbuh sebagai Negara yang kuat. Sultan pertama kerajaan yang sedang tumbuh ini adalah Ali Mughayat Syah (m. 1514-30). Selama masa pemerintahannya, sebagian besar komunitas dagang Asia yang bubar karena direbutnya Malaka oleh Portugis menetap di Aceh.

Pada tahun 1520, Ali Mughayat Syah memulai serangan-serangannya. Pada tahun itu dia berhasil merebut daya yang terletak di pantai barat Sumatera di bagian utara. Pada tahun 1524, dia merebut Pedir dan Pasaisetelah berhasil mengusir Portugis. Stelah itu menyerang Aru dimana selanjutnya daerah tersebut menjadi medan perang antara Aceh dan Johor, dan baru pada tahun 1613 akhirnya Sultan Iskandar Muda dari Aceh merebut daerah itu.

Putra tertua Ali Mughayat Syah yang menjadi penggantinya Salahuddin , dianggap seorang penguas yang lebih lemah. Pada tahun 1537, suatu serangan yang dilancarkan oleh pihak Aceh mengalami kegagalan dan kira-kira pada masa itulah Salahuddin diturunkan melalui sebuah kudeta.

Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar adalah salah satu dari prajurit-prahurit Aceh yang terbesar. Dia dipercayai telah menyerang rakyat batak di sebelah selatan Aceh pada tahun 1539 setelah penguasa daerah itu menolak memeluk agama Islam. Sebenarnya beralihnya kelompok-kelompok masyarakat batak ke dalam agama Islam dan Kristen dimulai pada abad XIX. Sesudah itu dia menyerang Aru, tetapi berhasil dipukul mundur oleh kerajaan Johor , dan Johor menguasai Aru selama 24 tahun berikutnya. Alauddin al-kahar dikenang dalam tradisi Aceh bukan hanya sebagai raja pejuang saja, melainkan juga sebagai penguasa yang melembagakan pembagian masyarakat Aceh menjadi kelompok-kelompok garis keturunan adminstrasi (kaum atau sukee).

Pada awal abad ke XVII, penguasa yang terbesar diantara penguasa-penguasa Aceh mendudki singgasana. Dalam waktu singkat, Sultan Iskandar Muda (1607-36) membentuk Aceh sebagai Negara yang paling kuat di Nusantara bagian barat. Dia mampu mengendalikan kalangan elit Aceh (orang kuat) yang memberikan dukungan kepadanya. Dia juga menciptakan suatu kelompok bangsawan baru yang terdiri atas para ‘panglima perang’ (dalam bahasa melayu Hulubalang dan dalam bahasa Aceh uleebalang); mereka menguasai daerah-daerah berdasarkan hak milik feodal. Setelah Iskandar Muda, tahta di Aceh digantikan oleh putrinya dengan gelar Taj ul-Alam (m. 1641-75), dan mengadakan perjanjian dengan Johor yang menyebutkan mulai saat itu masing-masing pihak akan memikirkan urusannya sendiri. Mulai saat itu, Johor berkembang menjadi Negara yang sangat makmur dan mempunyai pengaruh sangat besar, karena pada tahun 1641 bukan hanya ancaman dari Aceh saja yang hilang, melainkan juga Portugis berhasil diusir dari Johor dan VOC dari Malaka.

Aceh memasuki masa perpecahan di dalam negeri yang panjang, dan Negara ini tidak lagi menjadi kekuatan yang penting di luar ujung Sumatera. Empat orang ratu memerintah negeri ini antara tahun 1641 dan 1699, dan kekuasaan raja mulai terbatas hanya di ibu kota Negara saja. Para uleebalang berubah menjadi penguasa yang turun-temurun di wilayah-wilayah yang terpencil, dan para pemimpin keagamaan (Imam atau Ulama) muncul sebagai sebuah kekuatan yang menjanjikan. Kesultanan menjadi sebuah lembaga simbolis yang lemah. Sejak tahun 1699 hingga 1838, Negara ini diperintah oleh sebelas orang sultan yang hamper tidak berarti sama sekali, termasuk tiga orang berkebangsaan Arab (1699-1726), dua orang Melayu (keduanya memerintah dalam tahun 1726), dan enam orang Bugis (1727-1838).
| | 1 komentar Read More...

Sejarah Kekuasaan Kerajaan Aceh

Oleh Hendri Ansori

Negara-negara baru yang menganut agam islam muncul di Indonesia ketika orang-orang eropa untuk pertama kalinya. Terdapat banyak bukti yang dapat digunakan untuk menyusun kembali sejarah mengenai tiga Negara : Aceh, Jawa, dan Sulawesi Selatan. Aceh terlibat secara mendalam dengan semenanjung Malaya, karena ada tiga Negara besar yang saling berkonfrontasi satu sama lain di nusantara bagian barat pada awal abad XVI: Aceh, Malaka Portugis, dan Johor. Pada awal abad ke XVII, untuk beberapa waktu lamanya, Aceh muncul sebagai Negara yang paling kuat, makmur dan beradab di kawasan tersebut.

Saat kedatangan orang-orang Portugis di Malaka, Di seberang selat tersebut, Aceh sedang tumbuh sebagai Negara yang kuat. Sultan pertama kerajaan yang sedang tumbuh ini adalah Ali Mughayat Syah (m. 1514-30).
Selama masa pemerintahannya, sebagian besar komunitas dagang Asia yang bubar karena direbutnya Malaka oleh Portugis menetap di Aceh.

Pada tahun 1520, Ali Mughayat Syah memulai serangan-serangannya. Pada tahun itu dia berhasil merebut daya yang terletak di pantai barat Sumatera di bagian utara. Pada tahun 1524, dia merebut Pedir dan Pasaisetelah berhasil mengusir Portugis. Stelah itu menyerang Aru dimana selanjutnya daerah tersebut menjadi medan perang antara Aceh dan Johor, dan baru pada tahun 1613 akhirnya Sultan Iskandar Muda dari Aceh merebut daerah itu.

Putra tertua Ali Mughayat Syah yang menjadi penggantinya Salahuddin , dianggap seorang penguas yang lebih lemah. Pada tahun 1537, suatu serangan yang dilancarkan oleh pihak Aceh mengalami kegagalan dan kira-kira pada masa itulah Salahuddin diturunkan melalui sebuah kudeta.

Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar adalah salah satu dari prajurit-prahurit Aceh yang terbesar. Dia dipercayai telah menyerang rakyat batak di sebelah selatan Aceh pada tahun 1539 setelah penguasa daerah itu menolak memeluk agama Islam. Sebenarnya beralihnya kelompok-kelompok masyarakat batak ke dalam agama Islam dan Kristen dimulai pada abad XIX. Sesudah itu dia menyerang Aru, tetapi berhasil dipukul mundur oleh kerajaan Johor , dan Johor menguasai Aru selama 24 tahun berikutnya. Alauddin al-kahar dikenang dalam tradisi Aceh bukan hanya sebagai raja pejuang saja, melainkan juga sebagai penguasa yang melembagakan pembagian masyarakat Aceh menjadi kelompok-kelompok garis keturunan adminstrasi (kaum atau sukee).

Pada awal abad ke XVII, penguasa yang terbesar diantara penguasa-penguasa Aceh mendudki singgasana. Dalam waktu singkat, Sultan Iskandar Muda (1607-36) membentuk Aceh sebagai Negara yang paling kuat di Nusantara bagian barat. Dia mampu mengendalikan kalangan elit Aceh (orang kuat) yang memberikan dukungan kepadanya. Dia juga menciptakan suatu kelompok bangsawan baru yang terdiri atas para ‘panglima perang’ (dalam bahasa melayu Hulubalang dan dalam bahasa Aceh uleebalang); mereka menguasai daerah-daerah berdasarkan hak milik feodal. Setelah Iskandar Muda, tahta di Aceh digantikan oleh putrinya dengan gelar Taj ul-Alam (m. 1641-75), dan mengadakan perjanjian dengan Johor yang menyebutkan mulai saat itu masing-masing pihak akan memikirkan urusannya sendiri. Mulai saat itu, Johor berkembang menjadi Negara yang sangat makmur dan mempunyai pengaruh sangat besar, karena pada tahun 1641 bukan hanya ancaman dari Aceh saja yang hilang, melainkan juga Portugis berhasil diusir dari Johor dan VOC dari Malaka.

Aceh memasuki masa perpecahan di dalam negeri yang panjang, dan Negara ini tidak lagi menjadi kekuatan yang penting di luar ujung Sumatera. Empat orang ratu memerintah negeri ini antara tahun 1641 dan 1699, dan kekuasaan raja mulai terbatas hanya di ibu kota Negara saja. Para uleebalang berubah menjadi penguasa yang turun-temurun di wilayah-wilayah yang terpencil, dan para pemimpin keagamaan (Imam atau Ulama) muncul sebagai sebuah kekuatan yang menjanjikan. Kesultanan menjadi sebuah lembaga simbolis yang lemah. Sejak tahun 1699 hingga 1838, Negara ini diperintah oleh sebelas orang sultan yang hamper tidak berarti sama sekali, termasuk tiga orang berkebangsaan Arab (1699-1726), dua orang Melayu (keduanya memerintah dalam tahun 1726), dan enam orang Bugis (1727-1838).
| | 2 komentar Read More...

Negara - negara Sebelum Kemerdekaan

Oleh : Hendri Ansori
Pada abad XIV dan XV dua Negara besar yang mendominasi pada periode ini yaitu Majapahit Jawa Timur dan Malaka di Malaya, Majapahit adalah Negara terbesar diantara Negara-negara yang ada di Indonesia sebelum datangnya Islam, Malaka mungkin merupakan kerajaan yang terbesar diantara kerajaan-kerajaan yang menganut agama islam. Keduanya melambangkan zaman peralihan di Indonesia pada abad tersebut.
Sebelum membahas Majapahit dan Malaka, alangkah baiknya apabila kita terlebih dahulu membicarakan ciri-ciri umum dari Negara-negara yang ada di Indonesia sebelum masa penjajahan, tampak jelas bahwa ciri-ciri umum tertentu dari Negara yang ada di Indonesia tidaklah berubah selama beberapa abad. Khususnya, kondisi tanah dan iklim di daerah tersebut menciptakan pengaruh penting, bukan hanya terhadap pertanian dan perdagangan, melainkan juga terhadap formasi Negara.
Jawa mampunyai sederetan gunung berapi yang berjajar dari timur ke baarat di sepanjang pulau itu. Gunung-gunng dan dataran-dataran tinggi lainnya membantu memisahkan wilayah pedalaman menjadi kawasan-kawasan yang relakatif terpencil yang sangat cocok bagi persawahan. Daerah-daerah padi di jawa itu merupakan salah satu yang terkaya di dunia. Jalur-jaur perhubungan di utama di jawa adalah sungai-sungai yang sebagian besarnya relitif pendek-pendek. Sungai-sungai yang paling cocok untuk hubungan jarak jauh hanyalah sunga brantas dan bengawan solo, dan tidak mengherankan apabila lembah-lembah kedua sungai tersebut menjadi pusat-pusat kerajaan besar.
Pulau jawa terdiri atas kelompok-kelompok penduduk yang relative terpisah satu sama lainnya. Penduduk jawa pada abad tersebut tidak diketahui, namun beberapa sumber menyebutkan penduduk jawa saat itu kira lima juta pada abad XIII, namun dengan ukuran abad XXI jawa tetap berpenduduk sangat jarang, sehingga banyak daerah yang tidak berpenduduk. Hal ini menyebabkan setia kerajaan besar di wilayah pedalaman jawa memerlukan suatu bentuk kekuasaan pusat atas daerah terpencil semacam itu. Kerajaan-kerajaan di jawa pada dasarnya adalah kerajaan-kerajaan pedalaman, karena kesulitan-kesulitan perhubungan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa perdagangan luar negeri bukanlah kegiatan utama kerjaan pedalaman seperti itu.
Keadaan pulau di luar jawa, Negara-negara terbentuk dalam kondisi fisik yang agak berbeda, disini juga sebagian besar permukaan tanah terdiri atas gunung-gunung, dataran-dataran rendah , dan hutan belantara, sedangkan banyak daerah pantai merupakan rawa-rawa.. sebagian besar Negara-negara terbentuk di daerah-daerah pantai yang sangat cocok untuk pertanian padi. Focus Negara-negara seperti itu diarahkan pada wilayah-wilayah pedalaman sejauh ada bahan pangan atau hasil perdagangan penting yang dapat diperoleh disitu seperti, emas, lada dan lain-lain.
Di seluruh nusantara, para pedagang memperjualbelikan beras, lada, dan tekstil dalam jumlah yang besar. Pulau jawa merupakan penghasil beras terbesar di asia tenggara sampai abad XIX, sedangkan sumatera adalah eksportir lada. Para pedagang asing dating ke Indonesia khususnya untuk mendapatkan hasil-hasil hutan yang bernilai tinggi, seperti kamper, cendana, serta emas dari sumatera dan Kalimantan barat. Terutama, mereka memburu lada dari Indonesia bagian barat, serta cengkeh, pala, dan bunga pala dari maluku. Jawa dipandang sebagai masyarakat hidrolis yang didasarkan pada pertanian sawah, sedangkan Negara-negara luar jawa sebgai kawasan-kawasan yang terutama tergantung pada perdagangan luar negeri. Akantetapi stereotip ini tidak sepenuhnya memuaskan. Negara-negara luar jawa biasanya tergantung pada pertanian sawah untuk menghidupi rakyat mereka, sekalipun benar bahwa sebagian dari Negara-negara terbesar seperti Malaka, Aceh, Banten, dan Gowa, menghidupi rakyat mereka dengan terutama dengan beras yang diimpor dari pesisir utara jawa. Perbedaan pokok antara kedua jenis Negara tersebut adalah arah kegiatan-kegiatan yang dipengaruhi oleh keadaan alamnya ; diluar jawa adalah keluar, sedangkan di jawa ke dalam.
Kondisi ekonomi dan politik di seluruh nusantara pra-kolonial memiliki banyak kesamaan. Di semua daerah, jumlah penduduknya sangat terbatas, dan oleh karenanya merupakan basis yang terbatas pula bagi perpajakan dan sumber daya manusia untuk penanaman padi dan pembentukan tentara. Oleh karena itulah kadang-kadang salah satu tujuan perang adalah memindahkan penduduk dari daerah yang ditaklukkan ke wilayah pihak yang menang. Terisolasinya wilayah yang berpenduduk dan buruknya komunikasi menyebabkan sulitnya penyelenggaraan kekuasaan terpusat atas beberapa wilayah yang berpenduduk. Di Jawa, cara pemecahannya adalah dengan menerapkan sisitem kerajaan terbatas, dengan pemberian otonomi yang luas kepada para penguasa local. Sama halnya, kerajaan-kerajaan luar jawa seringkali terpaksa harus memberi otonomi yang luas kepada para vassal mereka. Oleh karena itu, selalu timbul ketegangan-ketegangan di dalam Negara-negar yang besar sebagai akibat terjadinya benturan antara kepentingan pusat dengan kepentingan daerah.
Seorang penguasa pusat mempunyai tiga teknik utama yang dapat digunakan untuk mempertahankan kekuasaannya. Pertama, dia dapat memberi otonomi yang cukup luas dan keuntungan-keuntungan langsung yang berbentuk kekayaan, martabat, dan perlindungan kepada penguasa daerah dan lawan-lawan lain yang potensial, seperti para pangeran dan pimpinan daerah, sebagai imbalan bagi dukungan mereka kepadanya. Kedua, dia dapat memelihara kultus kebesaran mengenai dirinya dan istananya yang mencerminkan kekuatan-kekuatan gaib yang mendukung dirinya. Ketiga, dan yang paling penting diantara semua teknik, dia harus memiliki kekuatan meliter untuk menghancurakan setiap oposisi. Semua Negara di Indonesia prakolonial didirikan pada akhirnya atas kekuatan meliter yang tanggauh.
Di wilayah ini terdapat dua kerajaan besar pada XIV dan XV yakni, Majapahit dan Malaka. Majapahit adalah Negara Hindu-Budha. beberapa sumber yang merupakan prasasti-prasasti berbahasa jawa kuno, naskah Desawarnan atau Negara- kertagama berbahasa jawa kono yang ditulis pada tahun 1365, dikenal hanya dalam menuskrip-manuskrip yang lebuh kemudian, naskah paraton berbahasa jawa tengahan. Semua ini terdapat pada zaman tersebut.
Penguasa majapahit anatar lain kertarajasa jayawhardana memerintah pada tahun 1294 sampai dengan 1309, Jayanegara memerintah pada tahun 1309 sampai dengan 1328,setelah itu ratu Tribhuana Wijayottungga Dewi memerintah pada tahun 1328 sampai dengan 1350, Rajasanagara atau yang popular dengan nama Hayam Wuruk memerintah pada tahun 1350 sampai dengan 1389. masa pemerintahan hayam wuruklah merupakan zaman kekemasan kerajaan Majapahit, serta Desawarnana ditulis pada pemerintahannya juga. Selanjutnya pada tahun 1389 sampai dengan 1429 raja Wikramawarna memerintah, setelah raja ini digantikan oleh Ratu Suhita yang memerintah dari tahun 1429 sampai dengan 1447. Wjayaparakramawardhana memerintah dari tahun 1447 sampai dengan 1451, dan berikutnya Rajasawardhana yang memerintah 1451 sampai dengan 1453. setelah pemerintahan yang terakhir ini selama tiga tahun Majapahit mengalami kekosongan kursi kerajaan yang diakibatkan oleh krisis suksesi, Namun pada tahun 1456 sampai dengan 1466 Girisawardhana menduduki kursi sebagai raja, setelah itu Snghawikramawardhana memerintah dari tahun 1466 sampai dengan 1478.
Hubungan dagang kerajaan majapahit menghubungkan daerah-daerah yang merupakan kekuasaannya, bagi mereka perdagangan ini juga menjadi monopoli raja. Jadi, Majapahit merupakan Negara dan sekaligus pada waktu yang sama, Negara perdagangan. Pada tahun 1343, Majapahti menaklukkan Bali, serta mengirim suatu ekspedisi untuk menghukum Palembang di Sumatera. Majapahit juga mempunyai hubungan erta dengan Campa, Kamboja, Siam, birma bagian selatan, dan Vietnam, serta mengirim duta-dutanya ke Cina.
Akhir abad XIV dan awal abad XV, pengaruh kerajaan Majapahit mulai berkrang, pada waktu yang sama, berdiri suatu Negara perdagangan melayu yang baru di nusantara bagian barat yaitu Malaka. Seorang pangeran dari palembang bernama parameswara berhasil meloloskan diri sewaktu terjadi serangan Majapahit pada tahun 1377 dan akhirnya tiba di Malaka kirar-kira tahun 1400. ditempat ini dia menemui pelabuhan yang baik, yang dapat dirapati kapal-kapaldi segala musim dan terletak di bagian paling sempit dari selat malaka. Dengan bersekutu dengan orang laut seperti perompak-perompak pengembara di selat malaka, dia berhasil membuat malak menjadi suatu pelabuhan internasional yang besar dengan cara memaksa kapal-kapal yang lewat untuk singgah di pelabuhannya serta memberi fasilitas-fasilitas yang cukup baik dan dapat dipercaya bagi pergudangan dan perdagangan. Malaka mungkin merupakan contoh yang paling murni dari dari Negara pelabuhan transito Indonesia, karena Negara ini tidak memiliki hasil-hasil sendiri yang penting, Negara ini harus mengimpor bahan pangan untuk menghidupi rakyatnya. Malaka dengan cepat menjadi suatu pelabuhan yang sangat berhasil, karena Negara ini dapat menguasai selat Malaka, salah satu trayek yang paling menentukan dalam system perdagangan internasional yang membentang dari dari Cina dan Maluku di timur sampai Afrika timur dan laut tengah di barat.
Negara ini mendapat perlindungan dari Cina sejak tahun 1405, sehingga mereka berulangkali mengirim duta-dutanya ke Cina. juga sebaliknya cina mengirim armada besar-besaran mengunjungi malaka dibawah pimpinan Admiral Dinasti Ming, yang bernama Zheng He (atau yang popular di Indonesia akhir-akhir ini dengan nama Laksamana Cheng Ho), yang terus berlanjut sampai tahun 1434. perlindungan nyata dari Cina ini telah membantu Malaka untuk berdiri kokoh.
Awalnya Parameswara adalah seorang raja yang bergama Hindu-Budha , tetapi tentu dia telah memaksa dan menganjurkan supaya para pedagang yang beragama islam menggunakan pelabuhannya. Pada masa akhir pemerintahannya (1390-1413/14), dia menganut agama islam dan memakai nama Iskandar Syah. Para penggantinya, Megat Iskandar Syah yang memerintah dari1414 sampai dengan 11423/24 dan Muhammad Syah memerintah dari tahun 1424 sampai dengan 1444, mereka beragama Islam. Raja selanjutnya Parameswara Dewa Syah yang tidak lama memimpin Malaka karena terjadi kudeta di dalam kerajaan, dan digantikan oleh saudara sepupunya, Sultan Muzaffar Syah yang memerintah pada tahun 1446 sampai dengan tahun 1459.
Perdagangan Malaka menyebar luas sampai ke pulau-pulau di Indonesia, bahkan sampai berhubungan ke barat sampai India, Persia, Arabia, Suriah, Afrika Timur, dan laut tengah, ke utara sampai Siam dan Pegu, serta ke timur sampai Cina dan Jepang. Ini merupakan perdagangan yang terbesar di dunia pada masa itu, dan dua tempat pertukarannya yang penting adalah Guharat di India. Hasil yang paling berharaga untuk diperdagangkan dari Indonesia adalah rempah-rempah.
| | 1 komentar Read More...