;
Tampilkan postingan dengan label logika formal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label logika formal. Tampilkan semua postingan

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU

ada sebuah logika yang biasanya dipakai orang tentang metode atau perspektif dalam ilmu sosiologi, seperti analog berikut:
Ada 5 orang buta yang memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke kebun binatang di mana mereka dapat berinteraksi dengan gajah, maklum mereka buta sejak dini dan tidak tahu bagaimana bentuk gajah tersebut. Yang satu memegangi ekornya, dan berujar, "aha... gajah itu berbentuk tipis dan panjang", yang memegangi kakinya berteriak, "wah, gajah itu kokoh, besar, berbentuk lonjong dan tegak!", yang memegang telinganya berkata, "...gajah itu berbentuk tipis", yang memegang belalainya berkata, "gajah itu panjang, agak lonjong dan melayang!", sementara yang sempat menaiki punggung gajah berkata, "wah, gajah itu besar sekali dan kita bisa menaikinya!". Semua memegang gajah, namun dengan tak adanya referensi bagaimana bentuk gajah, maka semua yakin dengan apa yang dipegangnya. Bagaimana cara agar semua orang buta tersebut mengetahui bentuk gajah yang sesungguhnya.

Berdasarkan sejarah, sosiologi memang ilmu yang muncul dari berbagai spekulasi tentang masyarakat, individu, interaksi sosial, struktur sosial, dan bagaimana struktur sosial tersebut bertahan seurut dengan waktu. Namun seiring dengan perkembangan waktu dan evolusi sains dalam peradaban manusia, maka berbagai pendekatan empirik mulai dilakukan. Asumsi tak cukup lagi hanya disandarkan pada akal sehat teoretisi, namun harus berlandaskan pada pengamatan dan jika mungkin ada pengukuran tentang hal tersebut, ada pengetatan-pengetatan dilakukan agar sosiologi tak terjebak ke perdebatan definitif, perdebatan debat kusir yang senantiasa tidak memajukan pemahaman kita akan masyarakat.

Secara sepintas, terlihat dengan jelas bahwa terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat besar di antara teori-teori sosial yang ada. Misalnya, yang mendasarkan perhatian pada struktur sosial akan berangkat dengan memperhatikan masyarakat condong kepada fungsionalisme, sementara di sisi lain yang berfokus pada dinamika masyarakat dan perubahan sosial akan cenderung untuk melihatnya dengan landasan konflik; bahkan melihat pola kerja sama individual atau antar kelompok dalam bentuk konflik pula, dan yang fokus pada bagaimana individu dalam membentuk struktur sistem sosial dan sebaliknya sistem sosial mempengaruhi perilaku individu melihatnya dengan kecondongan pada interaksionisme. Demikian seterusnya, dan seiring dengan perkembangan waktu dan spesialisasi obyek sosial yang hendak didekati, maka teori sosial akan cenderung terus bertambah.
| | 1 komentar Read More...

Logika Modern

Di abad ke-19, ada sejumlah upaya untuk memutakhirkan logika (George Boyle, Ernst Schröder, Gotlob Frege, Bertrand Russell dan A. N. Whitehead). Tapi, selain memperkenalkan simbol-simbol, dan beberapa penataan di sana-sini, tidak terdapat perubahan yang mendasar di sini. Banyak klaim besar yang dibuat, contohnya oleh para filsuf linguistik, tapi tidak terdapat banyak basis untuk mereka. Semantik (yang berurusan dengan kesahihan sebuah argumen) dipisahkan dari sintaksis (yang berurusan dengan apakah sebuah kesimpulan dapat ditarik dari aksiom dan premis tertentu). Ini dianggap sebagai sesuatu yang baru, padahal hanya merupakan pernyataan ulang dari pembagian kuno, yang telah akrab bagi orang-orang Yunani Kuno, antara logika dan retorika. Logika modern didasarkan pada hubungan logis di antara seluruh kalimat.
Pusat perhatiannya telah bergeser dari silogisme menuju argumen-argumen yang hipotetikal dan disjungtif. Ini bukanlah satu lompatan yang dapat membuat orang yang melihat menahan nafas. Kita dapat mulai dengan kalimat (penilaian) bukannya silogisme. Hegel melakukan ini dalam Logic. Bukannya sebuah revolusi besar dalam pemikiran, ia malah lebih mirip mengocok ulang satu tumpukan kartu yang telah kusut karena dipakai berkali-kali.

Dengan menggunakan analogi fisika yang superfisial dan tidak tepat, apa yang disebut "metode atomik" yang dikembangkan oleh Russell dan Wittgenstein (dan yang kemudian disangkal sendiri oleh orang yang disebut terakhir itu) mencoba membagi bahasa menjadi "atom-atomnya". Atom dasar dari bahasa menurutnya adalah kalimat sederhana, yang merupakan penyusun dari kalimat-kalimat kompleks. Wittgenstein bermimpi mengembangkan satu "bahasa formal" untuk tiap ilmu pengetahuan - fisika, biologi, bahkan psikologi. Kalimat-kalimat ditempatkan pada "uji kebenaran" yang berdasarkan hukum-hukum usang tentang identitas, kontradiksi dan tanpa-antara. Dalam kenyataannya, metode dasar yang digunakan masih tetap sama saja. "Nilai Kebenaran" adalah satu masalah "atau ini ... atau itu"[1], masalah "Ya atau Tidak", masalah "benar atau salah". Logika baru ini dirujuk sebagai kalkulus proposional. Tapi kenyataannya sistem ini bahkan tidak mampu menangani argumen-argumen yang sebelumnya dapat ditangani oleh silogisme yang paling dasar (kategorikal). Sang Gunung telah melahirkan seekor tikus.

Kenyataannya adalah bahwa bahkan kalimat sederhanapun tidak dapat dipahami, sekalipun ia dianggap sebagai "batu penyusun materi" linguistik. Bahkan penilaian yang paling sederhana, seperti yang ditunjukkan Hegel, mengandung pula kontradiksi. "Caesar adalah seorang manusia", "Fido adalah seekor anjing", "pohon itu hijau", semua menyatakan bahwa yang khusus adalah sama dengan yang umum. Kalimat itu nampaknya sederhana, sebenarnya tidak. Ini adalah tutup buku bagi logika formal, yang terus saja berkeras untuk mengabaikan semua kontradiksi, bukan hanya dari alam dan masyarakat, tapi juga dalam pemikiran dan bahasa itu sendiri. Kalkulus proposional berangkat dari persis postulat yang sama dengan yang digunakan oleh Aristoteles di abad ke-4 SM, yaitu, hukum identitas, hukum (tanpa-) kontradiksi, dan hukum tanpa-antara, yang ditambahi hukum negasi-ganda. Hukum-hukum ini tidak dituliskan dengan huruf biasa melainkan dengan simbol sebagai berikut:

a) p = p

b) p = ~ p

c) p V = ~ p

d) ~ (p ~ p)

Semuanya terlihat sangat manis, tapi tidaklah membuat perbedaan sedikitpun dengan hakikat silogisme. Terlebih lagi, logika simbolis itu sendiri bukanlah satu ide baru. Di tahun 1680-an, otak filsuf Jerman Leibniz yang selalu subur itu telah menghasilkan satu logika simbolis, sekalipun ia tak pernah mempublikasikannya.

Dimasukkannya simbol ke dalam logika tidaklah membawa kita selangkahpun lebih maju, persis karena alasan bahwa simbol-simbol itu, pada gilirannya, cepat atau lambat harus diterjemahkan ke dalam kata-kata dan konsep-konsep. Mereka memiliki keuntungan seperti tulisan steno, lebih praktis untuk operasi teknis tertentu, komputer dan beberapa hal lain, tapi hakikatnya masih persis sama seperti yang sebelumnya. Jaringan simbol matematis yang membingungkan ini diiringi oleh jargon-jargon yang benar-benar muluk, yang nampaknya memang dibuat sehingga logika tidak akan pernah dipahami oleh orang-orang kebanyakan, seperti kasta-pendeta dari Mesir dan Babilonia yang menggunakan kata-kata dan simbol kultus rahasia untuk menjaga agar pengetahuan mereka tidak bocor pada orang lain. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa orang-orang Mesir dan Babilonia itu memang benar-benar memiliki pengetahuan yang berharga untuk dimiliki, seperti gerak benda-benda langit, apa yang tidak dimiliki sama sekali oleh para ahli logika modern.

Istilah-istilah "predikat monadik", "pengkuantifikasi", "variabel individu" dan lain-lain dsb., dirancang untuk memberi kesan bahwa logika formal adalah satu ilmu yang tidak boleh dipandang enteng, karena ia tidak akan pernah dapat dipahami oleh orang-orang kebanyakan. Kita harus benar-benar prihatin bahwa nilai ilmiah dari satu sistem kepercayaan tidak berbanding lurus dengan ketidakjelasan bahasa yang dipergunakannya. Jika itu yang terjadi, tiap ahli mistik-religius dalam sejarah akan menjadi ilmuwan yang setaraf dengan gabungan Newton, Darwin dan Einstein sekaligus.

Dalam komedi karya Moliere, Le Bourgeois Gentilhomme, M. Jourdain terkejut kala diberitahu bahwa ia telah berbicara dalam prosa sepanjang hidupnya, tanpa ia sadari. Logika modern hanya mengulangi semua kategori kuno, dengan dibubuhi beberapa simbol dan istilah-istilah yang enak didengar, untuk menyembunyikan fakta bahwa sama sekali tidak ada sesuatupun hal baru dalam apa yang mereka nyatakan. Aristoteles telah menggunakan "predikat monadik" (pernyataan yang menyerahkan kepemilikan pada individu) sejak berabad-abad lalu. Tidak diragukan lagi, seperti M. Jourdain, ia akan bergirang ketika tahu bahwa ia telah menggunakan Monadic Predicate sepanjang hidupnya, tanpa ia sadari. Tapi hal itu tidak akan membuat perbedaan apapun atas apa yang tengah dikerjakannya. Penggunaan label-label baru tidaklah mengubah isi dari semangkuk selai. Pun penggunaan jargon tidak akan meningkatkan kesahihan satu bentuk pemikiran yang sudah terkikis jaman.

Adalah satu kebenaran yang memprihatinkan bahwa, di penghujung abad ke-20, logika formal telah mencapai batas terakhirnya. Tiap penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terus saja menghujamkan pukulan pada logika itu. Sekalipun bentuknya diubah-ubah, hukum-hukum dasarnya tetap tidak dapat berubah. Satu hal sudah jelas, perkembangan logika formal selama seratus tahun terakhir, pertama melalui kalkulus proposional (p.c.), kemudian melalui kalkulus proposional rendah (l.p.c.) telah membawa subjek tersebut pada titik penyempurnaan sejauh yang dimungkinkan. Kita telah mencapai sistem logika formal yang paling komprehensif, sehingga penambahan lain tentunya tidak akan menyajikan sesuatupun yang baru. Logika formal telah menyatakan segala yang dapat dinyatakannya. Jika kita berani mau jujur, ia telah mencapai tahap itu beberapa waktu yang lalu.

Baru-baru ini, basis telah bergeser dari argumen pada kesimpulan deduktif. Bagaimana "teorema logika diturunkan"? Ini adalah landasan yang amat rapuh. Basis logika formal telah diterima tanpa pertanyaan selama berabad-abad. Satu penyelidikan yang menyeluruh atas landasan teoritik dari logika formal niscanya akan berakhir pada perubahan logika itu menjadi lawannya. Arend Heyting, pendiri Aliran Matematika Intuisionis, menolak kesahihan dari beberapa pembuktian yang digunakan dalam matematika klasik. Walau demikian, kebanyakan ahli logika masih terus berkeras untuk memeluk cara-cara logika formal yang usang itu, seperti seorang yang berkeras memeluk sebatang jerami ketika ia sudah hampir tenggelam:

"Kami tidak percaya bahwa ada logika yang non-Aristotelian dalam makna seperti adanya geometri yang non-Euklides, yaitu, satu sistem logika yang mengasumsikan kebalikan dari prinsip-prinsip logika Aristotelian, prinsip kontradiksi dan tanpa-antara, sebagai kebenaran, dan dapat menarik kesimpulan-kesimpulan yang sahih daripadanya."[xvii]

Ada dua cabang utama logika formal saat ini - kalkulus proposional dan kalkulus predikat. Keduanya berangkat dari aksioma, yang harus dianggap sebagai benar "dalam semua bidang yang mungkin ada", di semua keadaan. Ujian terakhirnya tetaplah kebebasan dari segala kontradiksi. Segala hal yang kontradiktif akan dianggap sebagai "tidak sahih". Tentu hal ini memiliki beberapa penerapan, contohnya, pada komputer yang dirancang untuk menjalankan prosedur ya atau tidak yang sederhana. Pada kenyataannya, segala aksiom semacam itu adalah tautologi. Bentuk-bentuk kosong ini dapat diisi dengan hakikat macam apapun juga. Keduanya diterapkan dengan cara yang mekanistis dan memaksa terhadap segala subjek. Ketika persoalannya menyangkut proses yang linear, keduanya memang berjalan dengan baik. Hal ini penting, karena sejumlah besar proses dalam alam dan masyarakat benar berjalan dengan cara ini. Tapi ketika kita sampai pada gejala-gejala yang lebih kompleks, kontradiktif dan non-linear, hukum-hukum logika formal runtuh. Akan segera nampak bahwa, jauh dari klaim mereka bahwa merekalah "kebenaran di segala bidang yang mungkin ada", mereka adalah, seperti kata Engels, sangat terbatas dalam penerapan mereka, dan dengan cepat akan terkupas kedangkalannya ketika berhadapan dengan gejala sebagai sebuah totalitas keadaan. Lebih jauh lagi, persis inilah keadaan yang telah menyita perhatian ilmu pengetahuan, khususnya bagian yang paling inovatif, di sebagian besar waktu sepanjang abad ke-20.
| | 0 komentar Read More...

Logika dan Dunia Sub-atomik

Kekurangan logika tradisional telah dipahami oleh para filsuf lain, yang sama sekali tidak memeluk sudut pandang dialektikal. Secara umum, di dunia Anglo-Saxon, ada tradisi kecenderungan yang lebih besar terhadap empirisisme, dan pemikiran induktif. Walau demikian, ilmu pengetahuan membutuhkan satu kerangka kerja filsafati yang akan memungkinkan mereka menilai hasil-hasilnya dan mengarahkan langkahnya melalui tumpukan fakta dan statistik yang membingungkan, seperti benang Ariadne yang membimbing sang pahlawan di dalam labirin. Tidak cukup kalau kita sekedar mengandalkan pada "nalar-sehat", atau "fakta".

Pemikiran silogistik, metode deduktif abstrak, lebih banyak merupakan tradisi Perancis, terutama sejak Descartes. Tradisi Inggris sangatlah berbeda, karena kuat dipengaruhi empirisisme. Dari Inggris, aliran pemikiran ini dimasukkan ke Amerika Serikat, di mana aliran ini kemudian memiliki akar yang kokoh. Maka, cara berpikir formal-deduktif sama sekali bukan ciri dari tradisi intelektual Anglo-Saxon. "Sebaliknya," tulis Trotsky, "kita mungkin dapat mengatakan bahwa [aliran] pemikiran ini dibedakan melalui sikap melecehkan dari kaum empirisis yang merasa berdaulat terhadap silogisme murni, yang tidak menghambat orang-orang Inggris untuk membuat berbagai penaklukan besar dalam banyak bidang penyelidikan ilmiah. Jika kita sungguh-sungguh menelaah ini seperti yang kita harusnya lakukan, maka mustahillah untuk tidak sampai pada kesimpulan bahwa peremehan kaum empirisis terhadap silogisme adalah bentuk primitif dari pemikiran dialektikal."

Empirisime, dalam sejarahnya, memainkan baik peran progresif (dalam perjuangan melawan agama dan dogmatisme abad pertengahan) dan juga peran negatif (interpretasi yang teramat sempit terhadap materialisme, penolakan terhadap penggeneralisasian teoritik yang luas). Penilaian Locke yang terkenal bahwa tidak sesuatupun dalam nalar yang tidak diturunkan dari indera mengandung benih dari ide yang pada dasarnya tepat, tapi disajikan dengan cara yang sepihak, yang dapat, dan sesungguhnya telah, mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi yang berbahaya terhadap perkembangan filsafat selanjutnya. Dalam hubungannya dengan ini, Trotsky menulis beberapa saat sebelum ia dibunuh:

"'Kita tidak tahu segala sesuatupun tentang dunia selain apa yang disediakan melalui pengalaman.' Ini tepat jika kita tidak memahami pengalaman dalam makna kesaksian langsung yang disajikan oleh kelima indera kita. Jika kita mereduksi materi menjadi sekedar pengalaman dalam makna empirik yang sempit, maka mustahillah bagi kita untuk sampai pada penilaian apapun mengenai asal-usul berbagai spesies atau, lebih muskil lagi, tentang bagaimana kerak bumi terbentuk. Pernyataan bahwa basis bagi segala sesuatu adalah pengalaman adalah pernyataan yang terlalu jauh atau justru pernyataan yang tidak bermakna sama sekali. Pengalaman adalah kesalingterhubungan aktif antara subjek dan objek. Penelaahan pengalaman di luar kategori ini, yaitu, di luar lingkungan material objektif dari sang penyelidik yang diposisikan berhadapan dengan pengalaman itu yang, dari sudut pandang lain, merupakan bagian dari lingkungan itu sendiri - dengan melakukan hal ini kita meleburkan pengalaman ke dalam kesatuan tak berbentuk, di mana di sana tidak ada subjek maupun objek melainkan hanya satu rumusan mistis tentang pengalaman. 'Percobaan' atau 'pengalaman' yang semacam ini hanya ada pada seorang bayi yang masih dikandung oleh ibunya, sayangnya bayi itu tidak memiliki kesempatan untuk membagikan pada kita kesimpulan ilmiah dari pengalamannya."

Prinsip ketidakpastian yang berlaku dalam mekanika kuantum tak dapat diterapkan pada objek-objek sehari-hari, tapi hanya pada atom-atom dan partikel-partikel sub-atomik. Partikel-partikel sub-atomik mematuhi hukum-hukum yang berbeda dengan dunia "sehari-hari". Mereka bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, misalnya, 1.500 meter per detik. Mereka dapat bergerak ke berbagai arah pada saat yang bersamaan. Karena situasi ini, bentuk-bentuk pemikiran yang berlaku pada pengalaman sehari-hari tidak lagi sahih. Logika formal tidak berguna di sini. Kategorinya yang hitam-putih, ya-atau-tidak, ambil atau tinggalkan sama sekali, tidak mampu berhubungan dengan realitas yang fluid, tidak stabil dan kontradiktif ini. Bukannya berangkat dari premis-premis logika formal, mekanika kuantum malah melanggar Hukum Identitas dengan menyatakan "non-individualitas" dari tiap partikel. Hukum Identitas tidak dapat diterapkan pada tingkatan ini, karena 'identitas' dari tiap partikel secara individu tidak dapat ditetapkan dengan pasti. Dari sanalah muncul perdebatan panjang tentang "gelombang" atau "partikel". Tentunya elektron tidak dapat memiliki kedua sifat itu sekaligus! Di sini "A" ternyata adalah sama dengan "bukan-A" dan bahkan "A" dapat sama dengan "B". Dari sinilah muncul kemustahilan untuk "menetapkan" posisi dan kecepatan elektron dengan cara logika formal yang rapi dan mutlak itu. Itu adalah satu masalah serius bagi logika formal dan "nalar-sehat", tapi bukan masalah bagi dialektika atau untuk mekanika kuantum. Sebuah elektron memiliki sekaligus kualitas baik dari gelombang maupun dari partikel, dan hal ini telah ditunjukkan melalui berbagai percobaan.

Di tahun 1932, Heisenberg mengajukan bahwa proton di dalam inti atom diikat oleh sesuatu yang disebutnya sebagai gaya pertukaran. Hal ini menunjukkan bahwa proton dan neutron terus-menerus saling bertukar identitas. Tiap partikel yang kita amati akan selalu berada dalam keadaan flux [terus berubah], dalam proses berganti identitas dari sebuah proton menjadi neutron atau sebaliknya. Hanya dengan cara ini inti atom dapat terikat menjadi satu. Sebelum sebuah proton dapat ditolak oleh proton lain, ia berubah menjadi neutron, dan sebaliknya. Proses di mana partikel-partikel bertukar menjadi lawannya berlangsung tanpa henti, sehingga mustahil untuk mengatakan pada saat tertentu apakah satu partikel adalah sebuah proton atau neutron. Pada kenyataannya, ia adalah keduanya sekaligus - ia adalah dirinya sendiri dan sekaligus bukan dirinya sendiri.

Pertukaran identitas antar elektron tidaklah bermakna satu pertukaran tempat yang sederhana, melainkan satu proses yang rumit di mana elektron "A" saling rasuk dengan elektron "B" untuk menghasilkan satu partikel yang, katakanlah, 60% "A" dan 40% "B" atau sebaliknya. Belakangan, mereka mungkin secara utuh telah bertukar identitas, dengan semua "A" di sini dan semua "B" di sana. Aliran ini kemudian akan dibalik dalam satu osilasi permanen, melibatkan satu saling-tukar yang berirama atas identitas elektron, yang berlangsung tanpa henti. Hukum Identitas yang kuno, kaku dan tetap itu lenyap sepenuhnya dalam jenis identitas-dalam-perbedaan yang terus berdenyut ini, hal yang mendasari semua keberadaan ini, dan yang telah mendapat penyataan ilmiahnya melalui prinsip eksklusi Pauli.

Maka, dua setengah milenia kemudian, prinsip Heraclitus "segala hal mengalir" ternyata mendapat pembenarannya - secara harafiah. Di sini kita mendapati, bukan hanya keadaan yang terus berubah dan bergerak, tapi juga satu proses kesalingterhubungan universal, dan kesatuan dan kesalingrasukan dari hal-hal yang bertentangan. Elektron-elektron bukan hanya saling merupakan kondisi bagi keberadaan yang lain, tapi mereka sungguh-sungguh saling bertukar dan saling berubah menjadi yang lain. Betapa jauhnya ini dari alam semesta idealisnya Plato yang statis dan tetap selamanya itu! Bagaimana seseorang menetapkan posisi dari sebuah elektron? Dengan melihatnya. Dan bagaimana menentukan momentumnya? Dengan melihatnya dua kali. Tapi, dalam jangka waktu itu, bahkan dalam jangka yang kecil tak berhingga sekalipun, elektron itu telah berubah, dan bukan lagi seperti yang dilihat pertama kalinya. Ia sudah menjadi sesuatu yang lain. Ia adalah sekaligus sebuah partikel (satu "benda", satu "titik") dan sebuah gelombang (satu "proses", pergerakan, menjadi). Ia adalah dirinya sendiri dan sekaligus bukan dirinya sendiri. Metode logika formal yang kuno tentang hitam dan putih, yang digunakan dalam mekanika klasik, tidak mampu menghasilkan apa-apa di sini karena sifat dasar dari gejala itu sendiri.

Di tahun 1963 para fisikawan Jepang mengajukan bahwa satu partikel yang teramat kecil, yang dikenal sebagai neutrino, berubah identitasnya sejalan dengan perjalanannya menempuh ruang pada kecepatan yang amat tinggi. Pada satu titik, ia adalah elektron-neutrino, pada saat yang lain, ia adalah muon-neutrino, pada titik yang lain lagi, ia adalah tauon-neutrino, dst. Jika hal ini benar, hukum identitas, yang sudah babak-belur di sana-sini, akan dihajar dengan sebuah pukulan pamungkas. Pandangan yang kaku dan hitam-putih semacam itu akan terasa amat dangkal ketika berhadapan dengan mana saja gejala kompleks dan kontradiktif seperti yang digambarkan oleh ilmu pengetahuan modern.
| | 0 komentar Read More...

Apakah Logika Mengajari Kita Bagaimana Harus Berpikir?

Dialektika tidak berkehendak mengajari kita bagaimana kita harus berpikir. Ini adalah klaim palsu dari logika formal, yang dijawab Hegel secara ironis bahwa apa yang diajarkan logika tentang bagaimana berpikir adalah sejajar dengan apa yang diajarkan psikologi tentang bagaimana mengunyah makanan! Manusia berpikir, dan bahkan berpikir secara logis, jauh sebelum mereka mendengar tentang logika. Kategori logika, dan juga dialektika, diturunkan dari pengalaman nyata. Sekalipun mereka memasang kedok apapun, kategori-kategori logika formal tidaklah melayang di atas dunia realitas material, tapi merupakan abstraksi kosong belaka yang diambil dari realitas yang dipahami dalam cara yang sepihak dan statis, dan kemudian secara acak diterapkan kembali pada realitas itu.

Secara kotnras, hukum pertama metode dialektik adalah objektivitas mutlak. Dalam tiap kasus, sangatlah penting untuk menemukan hukum-hukum gerak dari sebuah gejala tertentu dengan menelaahnya dari segala sudut pandang. Metode dialektik bernilai sangat tinggi dalam upaya mendekati segala hal dengan tepat, dengan menghindarkan blunder-blunder filsafat yang mendasar, dan untuk membuat hipotesa ilmiah yang sahih. Dengan melihat jumlah ajaran mistis yang muncul dari hipoteses acak itu, terutama dalam fisika teoritis, ini bukanlah satu keuntungan sama sekali! Tapi metode dialektik selalu berusaha menurunkan kategori-kategorinya dari satu telaah yang hati-hati tentang fakta dan proses, bukan dengan memaksakan fakta ke dalam penjara teori yang telah dibangun dengan prasangka:

"Kita semua setuju," tulis Engels, "bahwa dalam segala bidang ilmu pengetahuan, di alam maupun dalam ilmu sejarah, kita harus maju berlandaskan fakta yang telah ada, dalam ilmu-ilmu alam berarti: dari berbagai bentuk material dan berbagai bentuk gerak material; berarti, dalam ilmu alam teoritik pun kesalingterhubungan tidaklah boleh dipaksakan kepada fakta tapi harus digali darinya, dan ketika telah ditemukan harus pula diuji sejauh mungkin melalui percobaan."

Ilmu pengetahuan dibangun berdasarkan pencarian hukum-hukum umum yang dapat menjelaskan bekerjanya alam. Dengan mengambil titik start dari pengalaman, ia tidaklah membatasi diri pada sekedar pengumpulan fakta, tapi berupaya untuk menggeneralisirnya berdasarkan pengalaman, maju dari yang khusus ke yang universal. Sejarah ilmu pengetahuan dicirikan oleh proses pendekatan yang semakin lama semakin dalam. Kita semakin mendekat pada kebenaran tanpa pernah mengerti "seluruh kebenaran". Pada akhirnya, ujian terhadap kebenaran ilmiah adalah percobaan. "Percobaan," kata Feynman, "adalah satu-satunya hakim dari 'kebenaran' ilmiah,"

Kesahihan bentuk-bentuk pemikiran harus, ujung-ujungnya, bergantung pada apakah ia berhubungan dengan realitas dunia fisik. Hal ini tidak boleh ditetapkan di muka, tapi harus ditunjukkan melalui pengamatan dan pengalaman. Logika formal, berlawanan dengan segala ilmu alam, tidaklah empiris. Ilmu pengetahuan menurunkan data-datanya dari pengamatan atas dunia-nyata. Logika diharuskan bersikap a priori, menetapkan kebenaran di muka, tidak seperti materi-subjek yang ditanganinya. Ada pertentangan yang bernyala di sana-sini antara hakikat dan bentuk. Logika tidak harus diturunkan dari dunia nyata, tapi ia terus diterapkan terhadap fakta-fakta dunia nyata itu. Hubungan apa yang terjadi antara kedua sisi ini?

Kant telah lama menjelaskan bahwa bentuk-bentuk logika haruslah mencerminkan realitas objektif, atau ia akan menjadi tidak bermakna sama sekali:

"Ketika kita memiliki alasan untuk menilai satu penilaian sebagai harus bersifat universal ... kita harus pula mempertimbangkan tujuan-tujuannya, yaitu, bahwa penilaian itu tidaklah sekedar menjadi satu rujukan atas pandangan kita terhadap subjek tertentu, tapi juga atas kualitas dari objek itu. Karena tidak akan ada alasan bagi penilaian orang lain untuk selalu bersepakat dengan penilaian saya, jika tidak ada kesatuan atas objek yang mereka rujuk, dan yang merupakan landasan persepakatan mereka; dengan demikian, mereka semua harus saling bersepakat."

Ide ini dikembangkan lebih jauh oleh Hegel, yang membuang keraguan dalam teori pengetahuan dan logika Kant, dan akhirnya diberi satu basis yang kuat oleh Marx dan Engels:

"Skema-skema logika," tegas Engels, "hanya dapat berhubungan dengan bentuk-bentuk pemikiran; tapi apa yang kita urusi di sini hanyalah bentuk-bentuk keberadaan, dari dunia di luar kita, dan bentuk-bentuk ini tak akan pernah dapat diciptakan dan diturunkan dari pemikiran itu sendiri, tapi hanya dari dunia nyata itu. Tapi dengan demikian seluruh keterhubungan ini dibalik: prinsip-prinsip tidaklah dijadikan titik awal penyelidikan, tapi sebagai hasil-hasil akhirnya; prinsip-prinsip tidaklah diterapkan atas alam dan sejarah manusia, tapi diabstraksi dari sana; bukanlah alam dan kemanusiaan yang harus menuruti prinsip-prinsip ini, tapi prinsip-prinsip hanyalah sahih sejauh mereka bersesuaian dengan alam dan sejarah."
| | 0 komentar Read More...

Apa itu Silogisme ?

"Pemikiran logis, pemikiran formal secara umum," ujar Trotsky, "disusun di atas basis metode deduktif, maju dari silogisme yang lebih umum melalui sejumlah premis menuju satu kesimpulan yang sewajarnya. Rantai silogisme semacam itu disebut dengan sorites.

Aristoteles adalah orang pertama yang menulis satu sistematika atas logika formal dan logika dialektik,
sebagai cara menyusun pikiran. Tujuan dari logika formal adalah untuk menyediakan kerangka kerja untuk membedakan argumen yang sahih dan yang tidak sahih. Hal ini dilakukannya dalam bentuk silogisme. Ada berbagai bentuk silogisme, yang sebenarnya merupakan varian dari tema yang sama.

Artistoteles, dalam bukunya Organon, menyebut sepuluh kategori - substansi, kuantitas, kualitas, hubungan, tempat, waktu, posisi, keadaan, aksi, gairah - yang membentuk basis bagi logika dialektik, yang kemudian disempurnakan dalam tulisan-tulisan Hegel. Sisi lain dari karya Aristoteles tentang logika ini sering diabaikan. Bertrand Russell, contohnya, menganggap bahwa kategori-kategori ini tidak bermakna. Tapi karena para positivis logis seperti Russell telah secara praktis mencoret seluruh sejarah filsafat (kecuali potongan-potongan yang bersesuaian dengan dogma-dogma mereka) sebagai "tidak bermakna", hal ini seharusnya tidak terlalu mengejutkan atau merepotkan kita.

Silogisme adalah cara berpikir logis, yang dapat digambarkan dengan berbagai cara. Definisi yang diberikan Aristoteles sendiri adalah sebagai berikut: "Satu diskursus di mana berbagai hal dinyatakan, hal-hal lain yang tidak dinyatakan harus mengikuti apa yang dinyatakan karena hal-hal itu dinyatakan demikan." Definisi yang paling sederhana diberikan oleh A. A. Luce: "Sebuah silogisme adalah satu triad [pasangan ganda tiga] dari proposisi yang yang saling berhubungan, terhubung sedemikian rupa sehingga salah satu dari ketiganya, yang disebut Kesimpulan, harus mengikuti kedua pernyataan yang lain, yang disebut Premis."[vi]

Orang-orang Terpelajar dari abad pertengahan memusatkan perhatian mereka pada jenis logika formal yang dikembangkan Aristoteles dalam The Prior and Posterior Analytics. Dalam bentuk inilah logika Aristoteles diwariskan sampai Abad Pertengahan. Dalam prakteknya, silogisme ini mengandung dua premis dan satu kesimpulan. Subjek maupun predikat dari kesimpulan masing-masing muncul dalam salah satu dari kedua premis, bersama dengan bagian ketiga (termin tengah) yang ditemukan dalam kedua premis, tapi tidak di dalam kesimpulan. Predikat dari kesimpulan adalah termin mayor; premis di mana ia terkandung disebut premis mayor; subjek dari kesimpulan adalah termin minor; dan premis di mana ia terkandung disebut premis minor. Contohnya,

a) Semua manusia adalah fana. (Premis mayor)

b) Caesar adalah seorang manusia. (Premis minor)

c) Dengan demikian, Caesar adalah fana. (Kesimpulan)

Ini disebut satu pernyataan kategorikal afirmatif. Pernyataan ini memberi kesan sebagai sebuah rantai logis dari sebuah argumen, di mana tiap tahap niscaya diturunkan sebagai hasil dari tahap sebelumnya. Tapi, sebenarnya, bukan itu yang terjadi, karena "Caesar" sebenarnya telah termasuk dalam himpunan "semua manusia". Kant, seperti Hegel, menganggap rendah silogisme ("doktrin yang bertele-tele," ujar Kant). Baginya, silogisme "tidaklah lebih dari sekedar satu tipuan" di mana kesimpulan sebenarnya telah disisipkan tersembunyi dalam premis sehingga kesan berpikir yang ditimbulkannya adalah palsu.[vii]

Jenis lain silogisme berbentuk kondisional (jika ... maka ...), contohnya: "Jika seekor hewan adalah seekor harimau, maka ia adalah pemakan daging." Ini adalah cara lain untuk menyatakan hal yang sama dengan pernyataan kategorikal afirmatif, yaitu, semua harimau adalah pemakan daging. Hubungan yang sama terjadi pada bentuk negatifnya - "Jika ia adalah seekor ikan, maka ia bukanlah hewan menyusui" adalah cara lain untuk menyatakan "Tidak ada ikan yang menyusui". Perbedaan formal ini menyembunyikan fakta bahwa kita belum maju selangkahpun dalam pemikiran kita.

Apa yang sebenarnya baru saja ditunjukkan adalah hubungan internal antara berbagai hal, bukan hanya dalam pikiran tapi juga dalam dunia nyata. "A" dan "B" terhubung dengan satu cara tertentu terhadap "C" (bagian tengah) dan premis-premis, dengan demikian, mereka terhubung satu sama lain di dalam kesimpulan. Dengan pemahaman dan kedalaman yang dahsyat, Hegel menunjukkan bahwa apa yang ditunjukkan oleh silogisme adalah hubungan dari yang khusus ke yang umum. Dengan kata lain, silogisme itu sendiri adalah satu contoh dari kesatuan hal-hal yang bertentangan, kontradiksi dalam tingkatan paling sempurna, dan bahwa, dalam kenyataannya, segala hal adalah "silogisme".

Masa keemasan silogisme terjadi dalam Abad Pertengahan, ketika Orang-orang Terpelajar mengabdikan seluruh hidup mereka dalam perdebatan tanpa ujung tentang segala persoalan teologis yang kabur, seperti "apa jenis kelamin malaikat?" Konstruksi logika formal yang berbelit-belit itu membuat mereka nampak sedang terlibat dalam satu diskusi yang mendasar padahal, kenyataannya, mereka tidak sedang berdebat sama sekali. Alasannya terletak persis pada sifat logika formal itu sendiri. Seperti yang dinyatakan oleh namanya, logika ini hanya mengurusi segala yang memiliki bentuk [form]. Masalah tentang hakikat atau isi tidak termasuk di dalamnya. Persis inilah cacat utama dari logika formal, dan sekaligus adalah urat Achilles-nya.

Pada masa Jaman Pencerahan, pembangkitan kembali semangat kemanusiaan, ketidakpuasan terhadap logika Aristotelian meluas dengan cepat. Terjadilah satu peningkatan reaksi melawan Aristoteles, yang sesungguhnya tidak adil terhadap pemikir besar ini, tapi sesungguhnya berakar dari fakta bahwa Gereja telah menindas segala yang berharga dalam filsafatnya, dan memelihara karikatur yang tak bernyawa dari filsafat yang sangat tinggi nilainya itu. Bagi Aristoteles, silogisme hanyalah satu proses dalam tata berpikir, dan tidak harus juga menjadi bagian yang terpenting darinya. Aristoteles juga menulis tentang dialektika, dan tapi aspek ini dilupakan. Logika dilucuti dari segala kehidupan yang dimilikinya dan diubah, mengutip Hegel, menjadi "tulang-tulang tak bernyawa."

Penolakan terhadap formalisme tak bernyawa ini tercermin dalam gerakan terhadap empirisisme, yang membuahi janin penyelidikan dan percobaan ilmiah. Walau demikian, mustahillah untuk sama sekali mengabaikan sama sekali satu bentuk pemikiran, dan empirisisme telah sejak kelahirannya membawa benih-benih kehancurannya sendiri. Satu-satunya alternatif yang berharga untuk metode berpikir yang penuh kekurangan dan tidak tepat ini adalah dengan mengembangkan metode yang tepat dan tanpa kekurangan.

Di akhir Abad Pertengahan, silogisme telah sama sekali dipermalukan di mana-mana, dan dihinakan dan dilecehkan. Rabelais, Petrach dan Montaigne, semua menyangkal kebenaran silogisme. Tapi silogisme masih terus bertahan, terutama di negeri-negeri Katolik, yang tidak tersentuh oleh badai yang ditiupkan oleh Reformasi Protestan. Di akhir abad ke-18, logika berada dalam keadaan yang demikian buruk sehingga Kant merasa berkewajiban untuk meluncurkan satu kritik umum terhadap bentuk-bentuk cara berpikir lama dalam bukunya Critique of Pure Reason.

Hegel adalah orang pertama yang menempatkan hukum-hukum logika formal ke dalam analisis yang sepenuhnya kritis. Di dalam analisis ini ia menyempurnakan kerja yang telah dimulai oleh Kant. Tapi di mana Kant hanya menunjukkan kekurangan-kekurangan dan kontradiksi yang terkandung di dalam logika tradisional, Hegel maju lebih jauh, menguraikan satu pendekatan yang sama sekali berbeda terhadap logika, satu pendekatan dinamis yang akan memasukkan pergerakan dan kontradiksi ke dalam logika, dua hal yang tidak sanggup ditangani oleh logika formal.
| | 2 komentar Read More...

Logika Formal dan Logika Dialektik

Kemampuan manusia untuk berpikir secara logis adalah hasil dari proses evolusi sosial yang panjang. Kemampuan ini mendahului penemuan logika formal, bukan hanya dalam jangka ribuan, tapi jutaan tahun. Locke telah menyatakan pemikiran ini di abad ke-17, ketika ia menulis: "Tuhan tidaklah demikian acuh terhadap manusia sehingga Ia membuatnya menjadi sekedar mahluk berkaki dua, dan kemudian menyerahkan tugas membuat mereka rasional kepada Aristoteles." Di balik Logika, menurut Locke, berdirilah "satu kemampuan naif untuk menangkap koherensi atau ketidakkoherenan dari salah satu idenya sendiri.

Kategorisasi logika tidaklah jatuh dari langit. Bentuk-bentuk ini telah terbangun dalam jalannya perkembangan sosio-historis umat manusia. Mereka semua adalah generalisasi paling mendasar atas realitas, yang tercermin dalam pikiran manusia. Semua ditarik dari fakta bahwa setiap objek memiliki kualitas tertentu yang membedakannya dengan objek-objek yang lain; bahwa segala hal hadir dalam hubungan tertentu dengan hal lain; bahwa objek-objek tersusun dalam kelas-kelas yang semakin tinggi, di mana mereka memiliki kesamaan dalam sifat-sifat tertentu; bahwa gejala-gejala tertentu mengakibatkan terjadinya gejala-gejala lain, dsb.

Sampai batas tertentu, seperti yang dinyatakan oleh Trotsky, hewan pun memiliki kemampuan untuk berpikir dan menarik kesimpulan tertentu dari situasi yang dihadapinya. Pada mamalia yang lebih tinggi, dan khususnya pada kera, kemampuan ini telah maju cukup jauh, seperti yang ditunjukkan dengan cukup menyolok oleh penelitian baru-baru ini mengenai simpanse bonobo. Walau demikian, sekalipun kemampuan berpikir mungkin bukanlah monopoli spesies manusia, kemampuan untuk berpikir secara rasional telah mencapai titik tertinggi yang telah dicapainya sejauh ini hanya pada perkembangan intelektualitas manusia.

Abstraksi adalah keharusan mutlak. Tanpanya, pemikiran secara umum tidaklah dimungkinkan. Pertanyaannya: abstraksi macam apa? Ketika saya mengabstraksi realitas, saya berkonsentrasi pada beberapa aspek dalam gejala tertentu, dan mengabaikan aspek-aspek lainnya. Seorang pembuat peta yang baik, contohnya, bukanlah seorang yang menggambar ulang setiap detil dari tiap rumah dan batu trotoar, apalagi tiap mobil yang diparkir. Jumlah detil yang demikian banyak akan menghancurkan kegunaan dari peta itu sendiri, yang dibuat untuk menyajikan satu skema umum yang enak dilihat dari sebuah kota atau wilayah geografis yang lain. Serupa dengan itu, sejak awal otak telah belajar mengabaikan bunyi tertentu dan berkonsentrasi pada bunyi yang lain. Jika kita tidak dapat melakukan ini jumlah informasi yang mencapai telinga kita dari segala sisi akan membuat otak kelebihan beban. Bahasa itu sendiri menyaratkan satu tingkatan abstraksi yang tinggi.

Kemampuan untuk membuat abstraksi yang tepat, yang cukup mencerminkan realitas yang ingin kita pahami dan gambarkan, adalah prasyarat perlu bagi pemikiran ilmiah. Abstraksi logika formal cukup untuk menyatakan dunia nyata pada tingkatan tertentu yang sempit. Tapi logika ini sepihak dan statis, dan sangat tidak cukup untuk menangani proses yang kompleks, terutama pergerakan, perubahan dan kontradiksi. Kekongkritan satu objek mengandung jumlah-total dari semua aspek dan interrelasinya, yang ditentukan oleh hukum-hukum dasar internalnya. Tugas dari ilmu pengetahuan-lah untuk menyingkap hukum-hukum ini, untuk sampai sedekat mungkin pada realitas kongkrit itu. Seluruh kegunaan kognisi [pengenalan, pengakuan] terletak pada pencerminan terhadap dunia objektif dan ketaatannya sejauh mungkin akan hukum-hukum internal dan hubungan-hubungan wajibnya. Seperti yang dinyatakan oleh Hegel, "Kebenaran itu selalu kongkrit."

Tapi di sini kita melihat satu kontradiksi. Mustahillah untuk sampai pada pemahaman tentang dunia alam kongkrit tanpa terlebih dahulu menarik abstraksi. Kata "abstrak" datang dari bahasa Latin yang berarti "mengambil dari". Melalui sebuah proses abstraksi, kita mengambil beberapa aspek yang kita anggap penting dari objek yang sedang direnungkan, mengabaikan aspek-aspek lainnya. Pengetahuan abstrak pastilah sepihak karena ia hanya menyatakan satu sisi tertentu dari gejala yang diamati, terisolasi dari apa yang menentukan sifat khusus dari keseluruhannya. Dengan demikian, matematika akan berurusan secara eksklusif dengan hubungan-hubungan kuantitatif. Karena kuantitas adalah aspek yang sangat penting dari alam, abstraksi matematik telah menyediakan bagi kita satu alat yang sangat penting untuk menyelami rahasia-rahasia alam itu. Karena alasan ini, kita sering tergoda untuk melupakan sifat dasar dan keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya. Karena matematika, bagaimanapun, tetaplah sepihak, seperti segala macam abstraksi yang lain. Kita menjerumuskan diri sendiri ke dalam bahaya karena kelalaian ini.

Alam mengenal kualitas sekaligus bersama kuantitas. Penentuan hubungan yang persis terjadi antara keduanya, dan untuk menentukan bagaimana yang satu berubah menjadi yang lain pada titik kritis tertentu, mutlak perlu bagi kita jika kita ingin memahami satu dari proses paling mendasar di alam ini. Ini adalah salah satu konsepsi dasar dari pemikiran dialektik, yang berseberangan secara lurus dengan pemikiran formal, dan juga salah satu sumbangannya yang paling penting untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Kebijaksanaan yang dalam yang disediakan oleh metode ini, yang sudah lama dicaci sebagai "ajaran mistis", baru kini dipahami dan diperhatikan. Pemikiran abstrak yang sepihak, yang terwujud dalam logika formal, telah membawa kerugian besar bagi ilmu pengetahuan dengan mengekskomunikasikan dialektika. Tapi, hasil-hasil nyata yang telah dicapai ilmu pengetahuan telah menunjukkan bahwa, ujung-ujungnya, pemikiran dialektik jauh lebih dekat dengan proses nyata yang terjadi di alam dibandingkan abstraksi linear dari logika formal.

Sangatlah penting untuk mendapatkan pemahaman kongkrit atas objek sebagai satu sistem yang integral, bukan sekedar pecahan-pecahan yang saling terisolasi satu dari lainnya; dengan kesalingterhubungannya yang kontradiktif, bukan hubungan yang terjadi di luar konteks, seperti seekor kupu-kupu yang terpaku pada papan koleksi museum; dalam kehidupan dan pergerakannya, bukan sesuatu yang mati dan statis. Pendekatan semacam ini berada dalam konflik terbuka dengan apa yang disebut "hukum-hukum" logika formal, penyataaan paling mutlak dari pemikiran dogmatik yang pernah ditemui manusia, yang merupakan sejenis rigor mortis mental. Tapi alam hidup dan bernafas, dan dengan keras kepala menolak mengikuti pemikiran formalistik. "A" tidak harus sama dengan "A". Partikel-partikel sub-atomik sekaligus adalah dirinya sendiri dan partikel lain. Proses linear akan selalu berakhir dalam chaos. Yang keseluruhan selalu lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya. Kuantitas berubah menjadi kualitas. Evolusi itu sendiri bukanlah sebuah proses yang gradual, tapi disela di sana-sini dengan lompatan-lompatan dan bencana yang mendadak. Apa yang dapat kita lakukan tentang hal ini? Fakta adalah hal yang keras kepala.

Tanpa abstraksi, mustahillah kita menerobos objek "secara dalam", untuk memahami sifat-sifat hakikinya dan hukum-hukum geraknya. Melalui kerja mental abstraksi, kita dapat memahami lebih jauh daripada informasi segera yang disajikan oleh indera kita (persepsi-inderawi), dan menjelajah lebih jauh. Kita dapat memecah berbagai objek menjadi bagian-bagian penyusunnya, mengisolasi mereka, dan menelaah masing-masing secara rinci. Kita dapat sampai pada satu pemahaman yang ideal dan umum terhadap objek dalam bentuknya yang "murni", setelah dilucuti dari semua ciri sekundernya. Ini adalah hasil kerja abstraksi, satu tahapan yang mutlak perlu bagi proses kognisi.

"Pikiran berjalan dari kongkrit menuju ke abstrak," tulis Lenin, "- asalkan ia tepat (dan Kant, seperti semua filsuf lainnya, bicara tentang pikiran yang tepat) - tidak akan bergeser dari kebenaran tapi justru mendekat kepadanya. Abstraksi dari materi, dari sebuah hukum alam, abstraksi dari nilai, dan lain-lain, pendeknya segala abstraksi ilmiah (tepat, serius, tidak absurd) mencerminkan alam dengan lebih dalam, benar dan lengkap. Dari persepsi hidup ke pemikiran abstrak, dan dari sini menuju praktek, - inilah jalur dialektis dari kognisi terhadap kebenaran, dari kognisi terhadap realitas objektif."[ii]

Salah satu ciri utama pemikiran manusia adalah bahwa ia tidaklah terbatas pada "apa yang sebenarnya" tapi juga mengurusi "apa yang seharusnya". Kita tak pernah berhenti membuat segala macam asumsi logis tentang dunia yang kita diami. Logika yang tidak dipelajari dari buku, tapi merupakan hasil dari masa-masa evolusi yang panjang. Percobaan-percobaan yang rinci telah menunjukkan bahwa bentuk-bentuk awal logika telah didapat oleh seorang bayi pada usia yang masih amat muda melalui pengalaman. Kita berpendapat bahwa jika sesuatu benar, maka hal lainnya, yang kita tidak memiliki pengalaman langsung tentang itu, pasti juga benar. Proses-berpikir logis seperti itu telah terjadi jutaan kali sepanjang hidup kita, tanpa kita sadari. Proses ini menjadi sebuah kebiasaan, bahkan tindakan paling sederhana dalam kehidupan ini akan mustahil kita lakukan tanpanya.

Aturan dasar berpikir telah dianggap wajar oleh banyak orang. Aturan-aturan itu adalah bagian hidup kita yang kita kenal baik, dan tercermin pula dalam banyak peribahasa, seperti "kamu tak dapat tetap memiliki kuemu jika kamu memakannya" - satu pelajaran yang penting untuk dipelajari tiap anak! Pada titik tertentu, hukum-hukum ini dituliskan dan disistematisir. Inilah asal-usul logika formal. Kita harus memberi penghargaan pada Aristoteles untuk itu, selain untuk hal-hal lainnya. Hal ini sangatlah berharga, karena tanpa pengetahuan tentang hal-hal yang mendasar, kita beresiko menjerumuskan pikiran kita menjadi tidak koheren. Sangatlah perlu untuk dapat membedakan hitam dari putih, dan mengetahui perbedaan antara pernyataaan yang benar dan yang salah. Nilai dari logika formal, dengan demikian, tidaklah perlu dipermasalahkan lagi. Masalahnya adalah bahwa kategori-kategori dari logika formal, yang ditarik dari pengalaman dan pengamatan yang cakupannya terbatas, hanya sahih di dalam batasan-batasan ini. Sebenarnya memang batasan ini mencakup berbagai gejala yang terjadi sehari-hari, tapi tidaklah cukup untuk mengurusi satu proses yang lebih kompleks, yang melibatkan pergerakan, turbulensi, kontradiksi, dan perubahan dari kuantitas ke kualitas.

Dalam sebuah artikel menarik yang berjudul The Origins of Inference, yang muncul dalam antologi Making Sense, tentang penggambaran seorang anak terhadap dunia, Margaret Donaldson meminta perhatian kita akan salah satu masalah dalam logika sehari-hari - cirinya yang statis:

"Logika verbal sering muncul tentang 'keadaan-latar' [state of affairs] - dunia ini dilihat sebagai hal yang statis, di dalam jaring-jaring waktu. Dan dengan pertimbangan semacam ini, alam semesta nampaknya tidak mengandung ketidakcocokan: segala sesuatu adalah seperti adanya. Objek yang di seberang sana adalah sebatang pohon; mangkuk itu berwarna biru; orang itu lebih tinggi dari orang yang ini. Tentu saja berbagai keadaan-latar ini menghalangi munculnya berbagai keadaan-latar yang lain, tapi bagaimana kita tahu tentang hal ini? Bagaimana ide tentang ketidakcocokan muncul dalam pemikiran kita? Tentunya bukan langsung dari kesan kita tentang segala-sesuatu-seperti-adanya."

Buku itu juga membuat satu pernyataan sahih bahwa proses mengetahui bukanlah pasif melainkan aktif:

"Kita tidaklah duduk-duduk dengan pasif menunggu dunia menancapkan citranya tentang 'realitas' pada kita. Melainkan, seperti yang kini diakui secara luas, kita mendapatkan banyak dari pengetahuan kita yang paling mendasar melalui tindakan-tindakan yang dilakukan dengan sadar."[iii]

Pemikiran manusia pada hakikatnya adalah kongkrit. Pikiran tidaklah dengan segera menyerap konsep-konsep yang abstrak. Kita paling merasa akrab dengan apa yang ada terlihat oleh kedua mata kita, setidaknya dengan hal-hal yang dapat disajikan dengan kongkrit. Kelihatannya pikiran kita butuh untuk menggenggam satu bentukan citra tertentu. Tentang hal ini, Margaret Donaldson berkomentar bahwa "bahkan anak-anak taman bermain seringkali dapat menarik logika yang baik dari cerita-cerita yang mereka dengar. Walau demikian, ketika kita maju lebih jauh dari apa yang ditangkap indera manusia perbedaannya sangatlah dramatis. Pemikiran yang tidak lagi bergerak di dalam batasan-batasan ini, sehingga ia tidak lagi bekerja di bawah dukungan konteks berbagai peristiwa yang kita pahami, seringkali disebut 'formal' atau 'abstrak'."[iv]

Proses awal itu, dengan demikian, maju dari yang kongkrit ke yang abstrak. Objek itu dibedah, ditelaah, supaya didapat satu pengetahuan yang rinci mengenai tiap bagiannya. Tapi hal ini ada bahayanya. Tiap bagian tidaklah dapat dipahami dengan tepat jika dipisahkan dari hubungannya dengan yang keseluruhan. Mutlak perlu untuk mengembalikan bagian-bagian itu menjadi satu sistem yang utuh, dan memahami dinamika internalnya dalam keadaan utuh. Dengan cara ini, proses kognisi maju dari yang abstrak, kembali pada yang kongkrit. Inilah hakikat dari metode dialektik, yang menggabungkan analisa dengan sistesa, induksi dan deduksi.

Seluruh tipu-daya idealisme diturunkan dari pemahaman yang tidak tepat mengenai sifat-sifat abstraksi. Lenin menunjukkan bahwa kemungkinan jatuh pada idealisme selalu ada dalam tiap abstraksi. Konsepsi abstrak atas suatu hal akan selalu didudukkan balik pada hal itu sendiri. Konsepsi itu bukan hanya dianggap memiliki keberadaan dalam dirinya sendiri, melainkan juga dianggap lebih mulia dari realitas materialnya yang kasar. Kekongkritan digambarkan sebagai hal yang cacat, tidak sempurna dan tidak murni, dibandingkan dengan Ide yang sempurna, mutlak dan murni. Dengan demikian, realitas didirikan terjungkir dengan kepala di bawah.

Kemampuan untuk berpikir dalam abstraksi menandai satu penaklukan raksasa dalam intelektualitas manusia. Bukan hanya ilmu-ilmu "murni", tapi juga ilmu-ilmu teknik akan mustahil tanpa pemikiran abstrak, yang mengangkat kita ke atas realitas yang segera dan terbatas dari contoh-contoh yang terbatas, dan memberi satu ciri yang universal pada pemikiran itu sendiri. Penolakan yang membabi-buta terhadap pemikiran abstrak dan teori menunjukkan keadaan mental yang sempit dan terbelakang, yang membayangkan diri sebagai "praktis", padahal, pada kenyataannya, impoten. Pada akhirnya, kemajuan-kemajuan besar dalam teori akan membimbing kita menuju kemajuan-kemajuan besar dalam praktek. Walau demikian, semua ide diturunkan dengan cara tertentu dari dunia fisik, dan, pada akhirnya, harus diterapkan kembali pada dunia fisik itu. Kesahihan satu teori harus didemonstrasikan, cepat atau lambat, dalam praktek.

Di tahun-tahun terakhir telah terjadi reaksi yang sehat terhadap reduksionisme mekanik, dengan mengajukan satu kebutuhan akan sebuah pendekatan yang holistik terhadap ilmu pengetahuan. Istilah holisitik itu sendiri sebenarnya agak kurang menguntungkan karena sering dikaitkan dengan ajaran mistis. Walau demikian, dalam mencoba melihat segala hal dalam pergerakan dan kesalingterhubungannya, teori chaos tak disangkal lagi telah cukup dekat dengan dialektika. Hubungan yang sebenarnya antara dialektika dan logika formal adalah hubungan antara jenis pemikiran yang memisah-misahkan segala hal dan menelaahnya secara terpisah, dan pemikiran yang sanggup menyatukan kembali bagian-bagian itu dan membuat mereka utuh kembali. Jika pikiran bersesuaian dengan realitas, ia harus mampu memahaminya sebagai satu keutuhan yang hidup, dengan segala kontradiksi yang dikandungnya.
Written by Alan Woods and Ted Grant
| | 1 komentar Read More...