;
Tampilkan postingan dengan label epistimologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label epistimologi. Tampilkan semua postingan

Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Rasional

Asumsi dasar yang melatarbelakangi semua ilmu pengetahuan dan pemikiran rasional secara umum adalah bahwa dunia fisik ada, dan bahwa dimungkinkan bagi kita untuk memahami hukum-hukum yang mengatur realitas objektif. Sebagian besar ilmuwan menerima bahwa jagad diatur oleh hukum-hukum alam, satu fakta yang diungkapkan oleh Phillip Anderson:
"Sungguh, sulit untuk membayangkan bagaimana ilmu pengetahuan bisa ada jika mereka tidak menerima hal itu. Kepercayaan pada hukum alam adalah kepercayaan pada jagad ini pada akhirnya akan dapat dipahami - bahwa kekuatan yang menentukan takdir dari sebuah galaksi akan juga menentukan jatuhnya sebutir apel di bumi sini; bahwa atom yang memantulkan cahaya yang menerobos sebutir intan dapat juga membentuk bahan penyusun sel hidup; bahwa elektron, neutron dan proton yang muncul dari big bang kini dapat melahirkan otak manusia, pemikiran, dan jiwa. Kepercayaan pada hukum alam adalah kepercayaan pada kesatuan jagad ini di tingkat terdalam yang paling dimungkinkan.
Hal yang sama berlaku pula pada umat manusia secara umum. Tiap penemuan baru dari ilmu pengetahuan dan berbagai bidang teknik telah memperluas dan memperdalam pemahaman kita, tapi justru dengan demikian, juga menyajikan tantangan-tantangan baru. Tiap pertanyaan yang terjawab segera akan melahirkan dua pertanyaan baru. Seperti seorang pengembara yang, dengan kegairahan yang meluap, berjalan menuju cakrawala, hanya untuk menemukan bahwa cakrawala itu akan terus menjauh, memanggilnya dari kejauhan itu, demikian pula proses penemuan berjalan tanpa dapat melihat garis akhirnya. Para ilmuwan menyelam semakin dalam pada misteri dunia sub-atomik, dalam pencarian atas "partikel terakhir". Tapi tiap kali mereka mencapai cakrawala dengan teriakan kemenangan, cakrawala itu dengan keras kepala mundur kembali ke kejauhan.

Merupakan ilusi dari tiap epos bahwa ia adalah puncak tertinggi dari segala pencapaian dan kebijaksanaan manusia. Orang-orang Yunani kuno mengira bahwa mereka telah memahami segala hukum jagad berdasarkan geometri Euclides. Laplace mengira demikian pula dalam hubungannya dengan mekanika Newton. Di tahun 1880, kepala kantor hak paten Prusia menyatakan bahwa segala sesuatu yang dapat ditemukan telah diciptakan orang! Kini, para ilmuwan cenderung lebih memutar dalam pernyataan mereka. Sekalipun demikian asumsi-asumsi dibuat diam-diam bahwa, misalnya, teori relativitas umum Einstein adalah mutlak benar, dan prinsip ketidakpastian memiliki penerapan universal.

Sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bagaimana ekonomisnya pemikiran manusia. Hanya sedikit saja yang terbuang dalam proses pembelajaran kolektif. Bahkan kesalahan sekalipun, ketika ditelaah secara jujur, dapat memainkan satu peran yang positif. Hanya ketika pemikiran dibekukan ke dalam dogma-dogma resmi, yang menganggap ide-ide baru sebagai hujatan yang harus dilarang dan dijatuhi sanksi, baru ketika itulah perkembangan pemikiran dilumpuhkan, bahkan dilemparkan ke belakang. Sejarah yang mengecewakan dari Abad Pertengahan yang Gelap merupakan bukti yang cukup tentang hal ini. Pencarian batu kebijaksanaan ("The philosopher's stone") didasarkan pada hipotesis yang keliru, namun para ahli alkimia tetap membuat penemuan-penemuan yang penting, dan meletakkan pondasi bagi perkembangan ilmu kimia modern. Teori ledakan besar, dengan pencariannya atas "awal waktu" yang hanya bayang-bayang itu, hampir-hampir tidak memiliki keabsahan ilmiah yang lebih tinggi daripada alkimia, namun, sekalipun demikian, tidak ada keraguan bahwa kemajuan-kemajuan besar telah, dan sedang, dikerjakan.

Seperti yang dilihat dengan tepat oleh Eric J. Lerner:
"Data yang baik, yang didapat dan ditelaah secara kompeten, selalu memiliki nilai ilmiah sekalipun teori yang mengilhaminya keliru. Teoritisi lain akan menemukan kegunaan untuk data itu, kegunaan yang sama sekali tidak terpikir ketika mereka pertama kali dikumpulkan. Bahkan dalam karya yang teoritik, upaya-upaya tulus untuk membandingkan satu teori dengan pengamatan hampir selalu terbukti berguna, tidak tergantung dari ketepatan teorinya: seorang teoritisi pastilah akan galau jika idenya keliru, tapi pencoretan terhadap satu kemungkinan yang keliru tidak dapat disebut membuang waktu.

Perkembangan ilmu pengetahuan melangkah maju melalui serangkaian pendekatan yang berlangsung bersinambungan. Tiap generasi sampai pada serangkaian generalisasi yang mendasar tentang bekerjanya alam, yang berguna untuk menjelaskan gejala-gejala teramati tertentu. Selalu hal ini dianggap sebagai kebenaran mutlak, sahih selamanya dalam "semua dunia yang mungkin ada"[1]. Walau demikian, setelah penelitian yang lebih dekat, mereka terbukti bukan mutlak, melainkan relatif. Pengecualian-pengecualian ditemukan, yang bertentangan dengan aturan-aturan yang baku, dan, pada gilirannya, menuntut satu penjelasan, dan demikian seterusnya sampai tak berhingga.
"Penemuan pertama adalah kesadaran bahwa tiap perubahan skala membawa gejala yang baru dan jenis perilaku yang baru pula. Bagi fisikawan partikel modern, proses ini tidak pernah berhenti. Tiap akselerator partikel yang baru, dengan peningkatan enerji dan kecepatan, telah memperluas bidang pandang ilmu pengetahuan pada partikel-partikel yang semakin kecil dan skala waktu yang semakin singkat, dan tiap perluasan kelihatannya selalu membawa informasi-informasi baru.

Apakah kita dengan demikian harus berputus asa bahwa kita tidak akan pernah mencapai kebenaran mutlak? Penyajian pertanyaan dengan cara ini menunjukkan ketidakpahaman akan hakikat kebenaran dan pengetahuan manusia. Maka Kant berpikir bahwa pikiran manusia hanya dapat memahami apa yang tampak. Di balik apa yang tampak itu, hadirlah Thing-In-Itself, hakikat segala sesuatu, yang tidak akan pernah dapat kita pahami. Terhadap hal ini, Hegel menjawab bahwa pengetahuan terhadap ciri-ciri sebuah hal adalah pengetahuan terhadap hal itu sendiri. Tidak ada tembok yang mutlak antara penampakan dan hakikat. Kita mulai dengan realitas yang menampakkan diri mereka pada kita melalui indera kita, tapi kita tidak berhenti di sini. Menggunakan nalar kita, kita menyelam semakin dalam ke dasar misteri materi, berpindah dari penampakan pada hakikat; dari yang khusus ke yang universal; yang sekunder menuju yang mendasar; dari fakta menuju hukum.

Dengan menggunakan terminologi yang digunakan Hegel untuk menjawab Kant, seluruh sejarah ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia secara umum adalah sebuah proses perubahan, dari Thing-In-Itself menjadi Thing-for-Us, dari hakikat benda-benda menuju apa yang berguna bagi kita. Dengan kata lain, apa "yang tidak dapat dipahami" pada satu tahap perkembangan ilmu pengetahuan akhirnya akan dapat dijelajahi dan dijelaskan. Tiap rintangan yang ditempatkan di jalur pemikiran akan diruntuhkan. Tapi, dengan memecahkan satu masalah, kita segera akan berhadapan dengan masalah-masalah baru yang harus pula dipecahkan, tantangan-tantangan baru yang harus diatasi. Dan proses ini tidak akan pernah berakhir, karena ciri-ciri dari jagad material sungguh adalah tak berhingga.

David Bohm menulis,
"Dengan mengikuti analogi ini lebih jauh, kita dapat mengatakan bahwa dengan memandang totalitas dari hukum alam kita tidak pernah memiliki cukup pandangan dan bidang irisan untuk dapat memberi kita pemahaman utuh atas totalitas ini. Tapi sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, dan pengembangan ilmu-ilmu baru, kita mendapatkan semakin banyak pandangan dari berbagai sisi, pandangan yang lebih menyeluruh, pandangan yang lebih rinci, dsb. Tiap teori atau penjelasan tertentu atas satu himpunan gejala yang tertentu pula hanya akan memiliki wilayah kesahihan yang terbatas dan hanya cukup untuk konteks tertentu dan di bawah kondisi yang terbatas. Hal ini berarti bahwa tiap teori yang diekstrapolasi pada konteks yang acak dan pada kondisi yang acak akan (seperti pandangan parsial kita atas objek) membawa kita pada peramalan-peramalan yang penuh kesalahan. Penemuan kesalahan semacam itu adalah salah satu dari cara yang terpenting untuk membuat kemajuan dalam ilmu pengetahuan.
"Sebuah teori baru, apa yang akhirnya akan dilahirkan dari penemuan kesalahan semacam itu, tidaklah merusak kesahihan teori yang lama. Melainkan, dengan memungkinkan satu perlakuan atas wilayah yang lebih luas daripada apa yang dapat ditangani oleh teori lama itu dan, dengan melakukan itu, ia membantu mendefinisikan satu kondisi di mana teori yang lama itu dapat mempertahankan kesahihannya (misalnya, seperti teori relativitas mengoreksi hukum Newton tentang gerak, dan dengan demikian membantu menetapkan batas-batas kondisi di mana hukum Newton berlaku yaitu di mana kecepatan relatif rendah dibandingkan dengan kecepatan cahaya). Maka, kita tidak berharap bahwa tiap hubungan kausal akan merupakan kebenaran mutlak; karena dengan melakukan ini, mereka akan diharuskan untuk dapat diterapkan tanpa pendekatan lagi dan tanpa pembatasan apapun. Melainkan, dengan demikian, kita melihat bahwa cara kemajuan ilmu pengetahuan adalah, dan selalu, melalui serangkaian pemahaman atas hukum alam yang semakin mendasar, luas dan akurat, setiap pemahaman memberi sumbangan pada penetapan kondisi-kondisi kesahihan dari pemahaman yang lebih dahulu (sebagaimana pandangan yang lebih luas dan rinci atas objek kita membantu memberi batasan atas pandangan atau himpunan pandangan tertentu).

Dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution, Profesor Thomas Kuhn menggambarkan sejarah ilmu pengetahuan sebagai revolusi teoritik berkala, memutus masa-masa panjang yang hanya diisi oleh perubahan kualitatif, yang diabdikan untuk mengisi rincian-rinciannya. Dalam masa-masa "normal" semacam itu, ilmu pengetahuan bekerja di dalam satu himpunan teori tertentu yang disebutnya paradigma, yang merupakan asumsi yang tidak dipertanyakan lagi tentang bagaimana adanya dunia ini. Pada awalnya, paradigma yang ada merangsang perkembangan ilmu pengetahuan, memberikan kerangka kerja yang koheren untuk penyelidikan. Tanpa kerangka kerja yang disepakati bersama-sama, para ilmuwan akan selamanya berdebat tentang hal-hal yang mendasar. Ilmu pengetahuan, tidak lebih dari masyarakat, tidak dapat hidup dalam masa-masa gejolak revolusioner yang permanen. Justru untuk alasan ini, revolusi adalah hal yang jarang terjadi, baik dalam masyarakat maupun dalam ilmu pengetahuan.

Selama beberapa waktu, ilmu pengetahuan dapat melangkah maju di atas jalur yang telah dikenal ini, sambil menumpuk hasil. Tapi, sementara itu, apa yang semula merupakan hipotesis baru yang berani akhirnya diubah menjadi ortodoksi yang kaku. Jika sebuah percobaan menghasilkan sesuatu yang bertentangan dengan teori yang ada, para ilmuwan mungkin menyembunyikannya, karena hasil-hasil itu dianggap subversif terhadap tatanan yang ada. Hanya ketika anomali itu bertumpuk sampai titik di mana mereka tidak lagi dapat diabaikan, ketika itulah landasan baru disiapkan untuk munculnya satu revolusi ilmiah, yang menggulingkan teori yang dominan dan membuka satu masa perkembangan ilmu pengetahuan "normal" yang baru, pada tingkat yang lebih tinggi.

Walaupun tentu sangat terlalu disederhanakan, gambaran tentang perkembangan ilmu pengetahuan ini, sebagai sebuah generalisasi yang luas, dapat dianggap benar. Dalam bukunya Ludwig Feuerbach, Engels menerangkan sifat dialektik dari perkembangan pikiran manusia, seperti yang ditunjukkan baik dalam sejarah ilmu pengetahuan maupun filsafat:

"Kebenaran, yang merupakan tugas filsafat untuk mengenalinya, di tangan Hegel tidak lagi menjadi satu kumpulan pernyataan dogmatik yang sempurna, yang, setelah ditemukan, tinggal dihafalkan saja. Kebenaran kini terletak dalam proses pengenalan kebenaran itu sendiri, dalam perkembangan panjang sejarah ilmu pengetahuan, yang bergerak dari tingkat pengetahuan rendah ke tinggi tanpa pernah mencapai, melalui penemuan dari apa yang disebut kebenaran mutlak, satu titik di mana ia tidak lagi dapat maju lebih jauh, di mana kita tidak lagi memiliki sesuatupun untuk dikerjakan selain berpangku tangan dan menatap dengan kagum pada kebenaran mutlak yang telah dimilikinya."

Lagi:
"Baginya, [filsafat dialektik] tidak sesuatupun yang final, mutlak, suci. Ia mengungkap sifat sementara dari segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu; tidak ada yang dapat menahannya kecuali proses tanpa henti dari lahir dan mati, peningkatan bersinambung dari rendah ke tinggi. Dan filsafat dialektik itu sendiri bukanlah apa-apa selain satu cerminan dari proses ini, yang terjadi di dalam otak yang berpikir. Ia juga, tentu saja, memiliki sisi konservatif: ia mengakui bahwa berbagai tahap tertentu dari ilmu pengetahuan dan masyarakat dibenarkan bagi masa dan keadaan yang melingkupi mereka; tapi hanya sebegitu saja. Konservatisme dari cara pandang ini adalah relatif; sifat revolusionernya adalah mutlak - satu-satunya kemutlakan yang diakui oleh filsafat dialektik.
| | 2 komentar Read More...

Empiris, pengetahuan, ilmu pengetahuan

Ciri-ciri Pengalaman, Pengetahuan, dan Ilmu Pengetahuan:
Pengalaman:
Berhubungan dengan realitas yang dialami manusia lewat pancaindera. Pengalaman bersifat sangat subjektif, karena :
• Objek tetap, subjek berbeda
• Objek berubah, subjek tetap
• Objek berubah, subjek berbeda
Pengetahuan:
• Adanya “sensation” (kesadaran, peristiw a m ental) setelah mengindra realitas (pem beda dengan hew an)
• Proses m ental yang m elalui akal budi (berpikir) m enjadikan pengalam anmenjadi pengetahuan. (contoh: ilm u tentang kerokan, obat kum is kucing)Ilm u pengetahuan:
• Pengalam an (pengetahuan) yang telah diolah secara kritis lewat akal budi menjadi ilmu pengetahuan karena memiliki:
1. Paradigma
2. Teori
3. Metodologi
Dalam bidang teori pengetahuan, terdapat tiga cara pandangan yang dominan dalam bidang filsafat. Ketiga cara pandang tersebut adalah rasionalisme, empirisme, dan kritisisme.Berikut ini dijelaskan ketiga pandangan tersebut serta ciri-cirinya.
Rasionalisme
• Rasionalism e dicetuskan oleh R ene Descartes (1596-1650), seorangfilsuf dari Peran
• M enurut Descartes, rasio adalah satu-satunya sum ber pengetahuan
• Kesan-kesan indraw i dianggap sebagai ilusi yang hanya diatasi oleh kem am puan yang dim iliki rasio
• Pem ikiran Descartes yang terkenal adalah cogito ergosum “saya berpikir, karena itu saya ada”
• M engunakan upaya ilm iah dengan “m etode skeptis”
• Rasionalisme memiliki dampak penting bagi ilmu pengetahuan karena menjadi dasar berpikir logis dan munculnya sistem pemikiran yang menitikberatkan pada akal.
• Dalam penelitian m enggunakan m etode deduksi Empirisme.
• Empirisme adalah paham pem ikiran yang menyatakan bahwa pengetahuan hanya didapatkan dari pengalaman empiris, bukan semata-mata dari rasio
- Filosof-filosof inggris memiliki paham empirisme, diantaranya David H um e (1711-1776), john Locke (1632-1704), dan Goerge Berkeley (1685-1753)
- Francis Bacon mengatakan em pirisme adalah pengamatan-pengam atan partikular lalu m em bentuk kesim pulan um um
- John Locke menganggap bahwa rasio manusia mula-mula harus dianggap “as a white paper” yang artinya pada saat lahir manusia belum memiliki pengetahuan apa-apa
- Dalam penelitian menggunakan m etode induksi kritisisme
- Aliran ini diperkenalkan oleh Im m anuel Kant (1724-1804)
- Aliran ini m erupakan sintesis antara rasionalism e dan em pirism e
- Menurut Immanuel Kant, rasio dan Empiris adalah sama-sama sumber pengetahuan, yaitu kesan-kesan empiris dikonstruksikan oleh rasio melalui kategori-kategori sehingga menjadi pengetahuan
- Immanuel Kant juga mempertanyakan sejauh mana akal dapat mengetahui tentang yang ada dan sejauh m ana akal memiliki kevalidan ketika mempersepsi sesuatu sehingga pemikirannya ini menjadi landasan perkembangan epistemology.
| | 0 komentar Read More...

Perkembangan Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu berkembang dari masa ke masa sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta realitas sosial. Dimulai dengan aliran rasionalisme-emprisme , kemudian kritisisme dan positivisme.
Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan dan analisis yang berdasarkan fakta. Paham ini menjadi salah satu bagian dari renaissance atau pencerahan dimana timbul perlawanan terhadap gereja yang menyebar ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa diterima oleh logika. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal sebagai sumber dari segala pembenaran. Segala sesuatu harus diukur dan dinilai berdasarkan logika yang jelas. Titik tolak pandangan ini didasarkan kepada logika matematika. Pandangan ini sangat popular pada abad 17. Tokoh-tokohnya adalah Rene Descartes (1596-1650), Benedictus de Spinoza – biasa dikenal: Barukh Spinoza (1632-1677), G.W. Leibniz (1646-1716), Blaise Pascal (1623-1662).

Empirisisme adalah pencarian kebenaran melalui pembuktian-pembukitan indrawi. Kebenaran belum dapat dikatakan kebenaran apabila tidak bisa dibuktikan secara indrawi, yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Francis Bacon (1561-1624) seorang filsuf Empirisme pada awal abad Pencerahan menulis dalam salah satu karyanya Novum Organum: Segala kebenaran hanya diperoleh secara induktif, yaitu melalui pengalamn dan pikiran yang didasarkan atas empiris, dan melalui kesimpulan dari hal yang khusus kepada hal yang umum. Empirisisme muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap superioritas akal. Paham ini bertolak belakang dengan Rasionalisme yang mengutamakan akal. Tokoh-tokohnya adalah John Locke (1632-1704); George Berkeley (1685-1753); David Hume (1711-1776). Kebenaran dalam Empirisme harus dibuktikan dengan pengalaman. Peranan pengalaman menjadi tumpuan untuk memverifikasi sesuatu yang dianggap benar. Kebenaran jenis ini juga telah mempengaruhi manusia sampai sekarang ini, khususnya dalam bidang Hukum dan HAM.

Kedua aliran ini dibedakan lewat caranya untuk mencari kebenaran rasionalisme didominasi akal sementara empirisisme didominasi oleh pengalaman dalam pencarian kebenaran. Kedua aliran ini secara ekstrim bahkan tidak mengakui realitas di luar akal, pengalaman atau fakta. Superioritas akal menyebabkan agama dilempar dari posisi yang seharusnya. Agama didasarkan pada doktrin-dokrtin yang tidak bisa diterima oleh rasio sehingga tidak diterima oleh para pemegang paham rasionalisme dan empirisisme. Bukan berarti dogma yang diajarkan agama itu tidak benar, tapi rasio manusia masih terbatas untuk menguji kebenaran dogma Tuhan. Munculah aliran kritisisme sebagai jawaban dari rasionalisme dan empirisisme untuk menyelamatkan agama.

Kritisisme merupakan filsafat yang terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio sebelum melakukan pencarian kebenaran. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Immanuel Kant (1724-1804). Filsafatnya dikenal dengan Idealisme Transendental atau Filsafat Kritisisme. Menurutnya, pengetahuan manusia merupakan sintesa antara apa yang secara apriori sudah ada dalam kesadaran dan pikiran dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman (aposteriori).

Filsafat positivisme membatasi kajian filsafat ke hal-hal yang dapat di justifikasi (diuji) secara empirik. Hal-hal tersebut dinamakan hal-hal positif. Positivisme digunakan untuk merumuskan pengertian mengenai relaita sosial dengan Penjelasan ilmiah, prediksi dan control seperti yang dipraktekan pada fisika, kimia, dan biologi. Tahap penelitian positivisme dimulai dengan pengamatan, percobaan, generalisasi, produksi, manipulasi.

Krisis Sains
Perkembangan sains sampai ke abad 20 membawa manusia ke tingkat yang lebih tinggi pada kehidupannya. Level pemahaman terhadap alam mencapai tingkat level yang lebih tinggi. Pengamatan alam sudah sampai ke level mikroskopis, ternyata pengamatan pada level mikroskopis mementahkan hukum-hukum fisika yang pada saat itu menajdi pijakan ilmu fisika. Hukum-hukum fisika klasik seperti mekanika dan gravitasi dimentahkan oleh perilaku elektron dan proton yang acak tapi teratur. Penemuan-penemuan baru pada bidang fisika pada level mikroskopis merubah pandangan ilmuwan pada saat itu mengenai alam secara keseluruhan. Tenyata sains merupakan ilmu yang tidak pasti, ada ketidakpastian dalam kepastian terutama pada level mikroskopis dimana ketidakpastian itu semakin besar. Pada masa ini terjadi pergeseran paradigma dari paradigma Newtonian ke paradigm pos Newtonian. Perubahan paradigma ini merupakan revolusi pada bidang fisika, yang melahirkan tokoh-tokoh baru seperti Einstein dan Heisenberg
Objek
Paradigma Newtonian
Paradigma Pos Newtonian
Alam
Mesin
Sistem / jaringan
Fenomena objek
Interaksi benda
Transformasi objek
Ruang, waktu
Datar, tak berbatas
Melengkung, tak berbatas
Kekuatan alam
Determenistik, realistik
Indeterministik, anti-realistik
Werner Heisenberg mengajukan teori ketidakpastian yang menyatakan tidak mungkin mengukur secara teliti suatu partikel secara stimultan dalam ruang dan waktu. Teori ini bukan hanya menjungkirbalikan teori fisika klasik yang dikembangkan oleh Newton, namun juga mengubah cara pandang berbagai disiplin ilmu terhadap sifat alam yang tadinya dianggap determentstik (dapat ditentukan) menjadi indeterminsitik (tidak dapat ditentukan). Teori ini menjadi landasan fisika kuantum. Perubahan paradigma terhadap alam mengubah arah perkembangan teknologi. Namun perkembangan teknologi yang revolusioner malah menjadi petaka bagi seluruh umat manusia, puncaknya ketika Albert Einstein menemukan bom atom dan digunakan oleh manusia untuk menghancurkan kota Hirosima dan Nagasaki. Dunia terkejut oleh kemampuan sains yang bukan hanya memudahkan manusia, namun juga menghancurkan. Pada tahap ini mulai dipertanyakan peranan sains dalam menuju kehidupan manusia yang lebih baik. Kritik mulai dilontarkan terhadap sains karena ternyata kemajuan sains belum tentu memajukan kemanusiaan di muka bumi.

Cendawan atom dan korban Bom atom Hiroshima
Sains memiliki tiga sifat utama yaitu netral, humanistik dan universal. Namun pada perkembangannya ternyata sains tidak netral, humanistik dan universal. Sains sangat tergantung pada kondisi ekonomi, sehingga pemilik modal dapat mengarahkan perkembangan sains. Pada masa perang dunia II sains memberi kontribusi besar pada kematian umat manusia lewat penemuan senjata pemusnah masal. Sains juga kehilangan sifat netralnya karena pengembangan sains sangat tergantung dari pemilik modal. Sains berpihak kepada pemilik modal.

Sains bersifat humanistik yaitu manusia sebagai pusat dari segalanya. Ternyata pandangan ini malah menghancurkan manusia. Kemajuan sains seiring dengan kemajuan teknologi. Teknologi sangat menguntungkan manusia karena bersifat memudahkan. Teknologi membutuhkan sumber daya yang diambil dari alam dan teknologi juga menghasilkan limbah yang sulit diuraikan aoleh sistem alam. Eksploitasi sumber daya alam berlebih mengakibatkan keseimbangan lingkungan terganggu yang menjadikan Bumi rentan terhadap bencana. Limbah hasil industri diketahui berbahaya bagi manusia, sehingga menimbulkan kanker yang membunuh jutaan manusia tiap tahunnya.

Sains hanya alat untuki mencapai sesuatu, namun dasar motivasi untuk mencapai suatu hal adalah hal yang berbeda. Akal budi lebih berperan untuk menentukan arah tujuan sains tersebut. Perkembangan dari sains seharusnya diikuti dengan perkembangan akal budi agar tercipta kehidupan manusia yang lebih baik.
| | 0 komentar Read More...

Filsafat Ilmu

Pemahaman dasar terhadap filsafat ilmu pengetahuan atau epistemology adalah bagian filsafat yang membahas ilmu pengetahuan dan kebenaran itu sendiri.
Pengetahuan atau knowledge adalah bagian yang esensial dari keberadaan manusia, karena pengetahuan merupakan buah dari berfikir,
sedangkan berfikir berarti differentia yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya yaitu hewan. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan istilah epistemology atau teori pengetahuan.
Epistemology sebagai sebuah kajian filsafat sebenarnya muncul belum terlalu lama yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang pesat di dunia barat dikarenakan ledakan kebebsan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang secara tidak langsung mempengaruhi cara berfikir mereka.
Adalah Renaissance yang paling berjasa membebaskan dunia barat dari trauma intelektual. Supremasi dan dominasi gereja pada waktu itu telah hancur. Sebagai dampak dari itu semua, manusia memandang dunia dengan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang alam semesta.
Maka dari itu, bermunculan berbagai aliran yang bergantian dan terkesan kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang muncul adalah rasionalis yang diwakili oleh descartes, Imanuel Kant, Heggel dan lain-lain, sedangkan aliran empiris diwakili oleh Auguste Comte dengan positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya serta Francis Bacon dengan sensualismenya.
Berbeda dengan dunia barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan dan berdampingan, meskipun terdapat friksi-friksi kecil yang terjadi dikarenakan beda interprestasi dari pemahaman keagamaan. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu pengetahuan saling mendukung.oleh karena itu ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Perkembangan dalam dunia Islam relatif stabil.
Ilmu pengetahuan dalam kacamata dunia barat maupun dunia Islam merupakan bahan kajian epistemologis yang paling utama dikarenakan manusia ketika ingin mengetahui sesuatu harus menggunakan dua alat yakni Indra dan akal.
Secara garis besar, dalam konteks Filsafat modern terdapat dua sumber pengetahuan yang dianggap melahirkan ilmu pengetahuan bagi manusia, yaitu pengetahuan yang lahir atas pertimbangan rasio/akal dan pengetahuan yang dihasilkan melalui pengalaman /empirik.
Dua faham tersebut dalam perkembangannya terus menerus melakukan dialektika. Kebenaran yang pertimbangannya pada rasio dikenal dengan istilah Rasionalisme, sedangkan sumber pengetahuan yang mendasari kebenaran pada pengalaman diistilahkan dengan empirisme.
Pemikiran-pemikiran tersebut sebenarnya telah mengalami proses islamisasi pada era skolastik oleh para filosof muslim dengan menggunakan sandaran pada konsepsi spritual. Jika ditelusuri lebih jauh, Islam melalui karya filosof skolastik memperkenalkan sumber pengetahuan lain di luar rasionalisme dan empirisme yaitu intuisi dan wahyu.
Di bawah ini penjelasan singkat tentang ketiga sumber pengetahuan tersebut :
1. Rasionalisme
Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Prinsip itu sendiri ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya, fungsi pemikiran manusia hanyalah mengenali prinsip tersebut yang kemudian menjadi pengetahuannya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ide bagi kaum rasionalis dalah bersifat apriori. Dalam hal ini, maka pemikiran rasional cenderung bersifat subjectif dan solipistik atau hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berbeda dalam benak orang yang berfikir tersebut.
2. Empiris
Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun lewat pengalaman yang konkret. Dengan menggunakan metode induktif maka dapat disusun pengetahuan yang berlaku secara umum lewat pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat individual. Masalah utama yang timbul dalam penyusunan pengetahuan secara empiris ini ialah bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung menjadi suatu kumpulan fakta-fakta. Kumpulan tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif.
3. Intuisi dan Wahyu
Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bersifat personal dan tidak dapat diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidak dapat diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam mennetukan kebenaran. Sedangkan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal yang ghaib (supranatural). Kepercayaan kepada Tuhan merupakan sumber segala pengetahuan, sebab kepercayaan merupakan titik tolak dalam beragama.
| | 0 komentar Read More...