;
Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Filsafat Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Filsafat Ilmu. Tampilkan semua postingan

REASON IN REVOLT, Bab 8

. Panah Waktu

Hukum Kedua Termodinamika
Termodinamika adalah satu cabang fisika teoritik yang berkaitan dengan hukum-hukum pergerakan panas, dan perubahan dari panas menjadi bentuk-bentuk enerji yang lain. Istilah ini diturunkan dari bahasa Yunani therme ("panas") dan dynamis ("gaya"). Cabang ilmu ini didasarkan pada dua prinsip dasar yang aslinya diturunkan dari eksperimen, tapi kini dianggap sebagai aksiom. Prinsip pertama adalah hukum kekekalan enerji, yang mengambil bentuk hukum kesetaraan panas dan kerja. Prinsip yang kedua menyatakan bahwa panas itu sendiri tidak dapat mengalir dari benda yang lebih dingin ke benda yang lebih panas tanpa adanya perubahan di kedua benda tersebut.
Ilmu termodinamika adalah hasil dari revolusi indutri. Pada awal abad ke-19, ditemukan bahwa enerji dapat diubah-ubah menjadi berbagai bentuk, tapi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. Inilah hukum pertama termodinamika - salah satu hukum dasar fisika. Lalu, di tahun 1850, Robert Clausius menemukan hukum kedua termodinamika. Hukum ini menyatakan bahwa "entropi" (yaitu, perbandingan antara enerji yang dikandung sebuah benda dengan suhunya) selalu bertambah dalam tiap perubahan bentuk enerji, contohnya, dalam sebuah mesin uap.

Entropi biasanya dipahami sebagai satu kecenderungan inheren menuju disorganisasi. Setiap keluarga pasti sadar bahwa sebuah rumah, tanpa campur-tangan secara sadar, pasti berubah dari keadaan teratur menjadi tidak teratur, khususnya ketika ada anak kecil di sana. Besi berkarat, kayu melapuk, daging mati membusuk, air di bak mandi mendingin. Dengan kata lain, nampaknya ada satu kecenderungan menuju pembusukan. Menurut hukum kedua termodinamika, atom, ketika dibiarkan sendiri, akan bercampur dan mengacak dirinya sendiri sejauh mungkin. Karat terjadi karena atom-atom besi cenderung bercampur dengan oksigen dari udara di sekelilingnya untuk membentuk oksida besi. Molekul-molekul yang bergerak cepat pada permukaan air mandi bertumbukan dengan molekul-molekul di udara yang mengelilinginya dan memindahkan enerji mereka ke udara.

Ini adalah hukum yang terbatas, yang tidak memiliki makna apapun dalam sebuah sistem yang terdiri dari sejumlah kecil partikel (mikrosistem) atau pada sistem yang memiliki jumlah partikel besar tak berhingga (jagad). Walau demikian, telah terjadi berbagai upaya untuk memperluas penerapannya di luar bidang yang seharusnya, yang membawa kita pada segala macam kesimpulan filsafati yang keliru. Di pertengahan abad lalu, R. Clausius dan W. Thomson, penemu prinsip kedua termodinamika, mencoba menerapkan hukum kedua itu pada jagad secara keseluruhan, dan sampai pada teori yang benar-benar keliru, yang dikenal sebagai "kematian termal", teori tentang akhir alam semesta.

Hukum ini disempurnakan di tahun 1877 oleh Ludwig Boltzmann, yang mencoba untuk menurunkan hukum kedua termodinamika dari teori materi atomik, yang pada waktu itu sedang naik daun. Dalam versi Boltzmann, entropi nampak sebagai satu fungsi peluang dari satu keadaan materi tertentu: semakin tinggi peluang dari satu keadaan, semakin tinggi pula entropinya. Dalam versi ini, semua sistem cenderung menuju satu keadaan setimbang (keadaan di mana tidak ada aliran enerji netto). Dengan demikian, ketika satu benda panas ditempatkan berdampingan dengan sebuah benda dingin, enerji (panas) akan mengalir dari yang panas ke yang dingin, sampai mereka mencapai keadaan setimbang, yaitu mereka memiliki suhu yang sama.

Boltzmann adalah orang pertama yang mengurusi masalah perubahan dari tingkat mikroskopik (skala kecil) ke makroskopik (skala besar) dalam fisika. Ia mencoba menggabungkan dua teori baru termodinamika dengan fisika perlintasan klasik. Mengikuti teladan Maxwell, ia mencoba memecahkan masalah itu melalui teori peluang. Hal ini adalah satu terobosan besar terhadap metode deterministik mekanik Newton. Boltzmann menyadari bahwa penambahan entropi yang tidak dapat dibalik prosesnya itu dapat dilihat sebagai sebuah pernyataan atas pertambahan ketidakteraturan molekular. Prinsipnya tentang keteraturan menyatakan bahwa keadaan yang peluangnya lebih tinggi untuk terjadi dalam satu sistem adalah keadaan di mana berbagai kejadian yang terjadi bersamaan dalam satu sistem saling meniadakan satu dengan yang lain secara sempurna dilihat dari segi statistik. Walaupun molekul-molekul dapat bergerak acak, secara rata-rata, pada saat tertentu, sejumlah molekul akan bergerak ke arah yang sama dengan molekul-molekul lainnya.

Ada satu kontradiksi antara enerji dan entropi. Kesetimbangan yang labil antara keduanya ditentukan oleh suhunya. Pada satu suhu yang rendah, enerji berdominasi, dan kita melihat kemunculan dari keadaan yang berarturan dan berenerji rendah, misalnya dalam kristal es, di mana molekul-molekul dikunci pada kedudukan tertentu relatif terhadap molekul lainnya. Walau demikian, dalam suhu yang tinggi, entropi berkuasa, dan terwujudkan dalam ketidakberaturan gerak molekul. Struktur kristal akan dihancurkan, dan kita mendapati satu transisi, pertama menjadi cairan, lalu menjadi gas.

Hukum kedua menyatakan bahwa entropi dari satu sistem yang terisolasi selalu bertambah, dan bahwa ketika dua sistem disatukan, entropi dari gabungan kedua sistem itu adalah lebih besar dari jumlah dari kedua entropi tersebut. Walau demikian, hukum kedua termodinamika tidaklah seperti hukum-hukum fisika yang lain, seperti hukum gravitasi Newton, persis adalah karena hukum ini tidak selalu dapat diterapkan. Hukum ini, yang awalnya diturunkan dari satu bidang khusus mekanika klasik, terbatas oleh fakta bahwa Boltzmann tidak memperhitungkan gaya-gaya lain seperti elektromagnetisme atau bahkan gravitasi, hanya memperhitungkan tumburan atom-atom. Ini memberi gambaran yang sangat terbatas terhadap proses fisika, yaitu ia tidak dapat dianggap dapat diterapkan secara umum, sekalipun ia berlaku untuk sistem-sistem yang terbatas, seperti mesin uap. Hukum Kedua tidak dapat diterapkan dalam tiap kejadian-lingkup. Gerak Brown, misalnya, merupakan kontradiksi terhadap hukum ini. Sebagai satu hukum umum jagad dalam bentuk klasiknya, hukum ini keliru.

Orang telah mengklaim bahwa hukum kedua menunjukkan bahwa jagad secara umum haruslah bergerak ke arah keadaan entropik. Dengan menggunakan analogi satu sistem yang tertutup, seluruh jagad dianggap harus berakhir dalam satu keadaan kesetimbangan, dengan suhu yang sama di mana-mana. Bintang-bintang akan kehabisan bahan bakar. Semua kehidupan harus berhenti ada. Jagad pada akhirnya akan melayu menjadi satu kehampaan yang luas tak berhingga. Ia akan menderita satu "kematian-panas". Pandangan yang suram tentang masa depan jagad ini berlawanan langsung dengan apa yang sudah kita ketahui tentang masa lalunya, atau masa kininya. Konsep bahwa materi itu sendiri cenderung akan menuju satu keadaan setimbang mutlak juga bertentangan dengan alam itu sendiri. Ini adalah pandangan yang abstrak dan mati terhadap jagad. Pada saat ini, jagad sangat jauh dari keadaan setimbang apapun, dan tidak ada petunjuk apapun bahwa keadaan semacam ini pernah terjadi di masa lalu, atau akan terjadi di masa datang. Lebih jauh lagi, jika kecenderungan menuju entropi adalah permanen dan linear, tidak dapat kita jelaskan mengapa tidak dari dulu jagad ini berakhir menjadi satu sup yang berisi partikel-partikel tak berbentuk.

Namun ini adalah satu bukti lagi tentang apa yang akan terjadi ketika satu teori ilmiah diupayakan untuk diperluas ke luar batasan di mana ia telah terbukti dapat diterapkan. Keterbatasan prinsip termodinamika telah ditunjukkan di abad lalu dalam satu polemik antara Lord Kelvin, fisikawan Inggris terkemuka itu, dan para geolog, mengenai usia bumi. Ramalan yang dibuat oleh Lord Kelvin berdasarkan termodinamika ternyata bertentangan dengan apa yang telah diketahui mengenai evolusi biologis dan geologis. Teori itu mempostulatkan bahwa bumi seharusnya masih berada dalam keadaan cair 20 juta tahun yang lalu. Satu akumulasi data yang luar biasa besar membuktikan bahwa para geologis benar dan Lord Kelvin keliru.

Di tahun 1928, Sir James Jean, ilmuwan dan filsuf idealis Inggris, menghidupkan kembali argumen lama mengenai "kematian-panas" jagad, dengan menambahkan unsur-unsur yang diambil dari teori relativitas Einstein. Karena materi dan enerji adalah setara, katanya, jagad ini harus berakhir dalam satu peralihan sempurna dari materi menjadi enerji: "Hukum kedua termodinamika," ia meramal dengan penuh hawa gelap, "mengharuskan materi di jagad (sic!) untuk selalu bergerak dalam jurusan yang sama yang berakhir hanya dalam kematian dan penghancuran."[i]

Skenario yang sama pesimistiknya telah diajukan baru-baru ini. Mengutip satu buku yang baru diterbitkan:

"Jagad ini di masa depan yang jauh akan menjadi satu sup cair yang tak terbayangkan, yang terdiri dari foton, neutrino dan sejumlah elektron dan positron yang semakin berkurang, semuanya bergerak saling menjauh. Sejauh yang kita tahu, tidak ada proses dasar fisika yang dapat terjadi lagi. Tidak ada kejadian penting yang akan terjadi untuk mengganggu kemandulan suram dari jagad yang telah menempuh seluruh perjalanannya tapi masih dikutuk untuk hidup selamanya - atau mati selamanya, mungkin itu penggambaran yang lebih sesuai.
"Citra yang menakutkan dari kehampaan yang dingin, gelap dan tak berbentuk ini adalah yang kesejajaran terdekat yang dapat dicapai kosmologi modern dengan "kematian-panas" dari abad ke-19."[ii]

Apa kesimpulan yang harus kita tarik dari semua ini? Jika semua kehidupan, dan juga semua materi, bukan hanya bumi, tapi di seluruh jagad raya, ditakdirkan hancur, maka mengapa kita perlu bersusah hati? Perluasan yang keterlaluan atas hukum kedua termodinamika di luar batasan aktual penerapannya telah menumbuhkan berbagai kesimpulan filsafati yang keliru dan nihilistik. Maka, Bertrand Russel, filsuf Inggris itu, dapat menulis baris-baris berikut ini dalam bukunya Why I Am Not a Christian:

"Semua karya dari segala abad, segala pengabdian, segala ilham, segala kegemilangan yang menyilaukan dari manusia-manusia jenius, ditakdirkan untuk menemui ajal dalam kematian agung tata surya, dan ... semua tugu peringatan atas pencapaian manusia niscaya akan dikuburkan di bawah reruntuhan jagad - semua hal ini, jika bukannya tak terbantahkan, sampai kini hampir-hampir demikian pastinya sehingga tidak satupun filsafat yang menolaknya dapat berharap untuk bertahan. Hanya di dalam pelukan kebenaran-kebenaran inilah, hanya di atas pondasi kokoh dari keputusasaan, kita dapat membangun dengan selamat tempat tinggal bagi jiwa kita."[iii]

Keteraturan dari Kekacauan

Di tahun-tahun terakhir, interpretasi pesimistik dari Hukum Kedua Termodinamika telah mendapatkan tantangan dari satu teori baru yang mengejutkan. Pemenang Hadiah Nobel dari Belgia Ilya Prigogine dan para rekan kerjanya telah mempelopori satu interpretasi yang sama sekali berbeda dari teori klasik termodinamika. Terdapat beberapa paralel antara teori Boltzmann dan teori Darwin. Pada teori yang disebut terakhir, sejumlah besar fluktuasi acak membawa kita pada titik perubahan yang tidak dapat dibalik lagi. Yang satu dalam bentuk evolusi biologis, yang lain dalam disipasi enerji, dan evolusi menuju ketidakteraturan. Dalam termodinamika, waktu menunjukkan satu degradasi dan kematian. Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana hal ini cocok dengan gejala munculnya kehidupan, dengan kecenderungan inherennya ke arah organisasi dan kompleksitas yang semakin lama semakin tinggi tingkatannya.

Hukum itu menyatakan bahwa segala sesuatu, jika dibiarkan, cenderung menuju satu peningkatan entropi. Di tahun 1960-an, Ilya Prigogine dan lain-lain menyadari bahwa di dunia nyata atom-atom tidak pernah dibiarkan "sendirian". Segala sesuatu saling mempengaruhi. Atom-atom dan molekul hampir selalu terbuka pada aliran enerji dan materi dari luar, yang, jika cukup kuat, akan membalik sebagian apa yang nampak sebagai proses yang tak dapat dibalik itu, proses menuju ketidakteraturan yang terkandung dalam hukum kedua termodinamika. Kenyataannya, alam menunjukkan berbagai kejadian yang bukan hanya dari jenis pembusukan dan peluruhan, tapi juga proses yang kebalikannya, pengorganisiran diri dan pertumbuhan yang spontan. Kayu melapuk, tapi pohon tumbuh. Menurut Prigogine, struktur pengorganisiran diri terjadi di mana-mana di alam ini. Dengan itu, M. Waldrop menyimpulkan:

"Seberkas laser adalah sistem yang mengorganisir diri sendiri di mana partikel-partikel cahaya, foton, dapat mengelompokkan dirinya secara spontan ke dalam satu berkas yang luar biasa kuat di mana setiap foton bergerak dalam langkah yang seragam. Satu angin topan adalah satu sistem yang mengorganisir diri sendiri, yang mengambil tenaganya dari arus enerji yang stabil dari matahari, yang mendorong angin dan menarik air hujan dari lautan. Satu sel hidup - sekalipun terlalu rumit untuk dianalisa secara matematik - adalah satu sistem yang mengorganisir diri sendiri, yang bertahan hidup dengan menyerap enerji dalam bentuk makanan dan mengeluarkan enerji dalam bentuk panas dan bahan buangan."[iv]

Di manapun di alam ini kita melihat pola. Beberapa teratur, yang lain tidak teratur. Ada pembusukan tapi ada juga pertumbuhan. Ada kehidupan tapi juga ada kematian. Dan, nyatanya, kecenderungan-kecenderungan yang saling berkonflik ini terikat bersama-sama. Mereka tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hukum kedua menyatakan bahwa semua di alam ini memegang tiket sekali jalan menuju ketidakteraturan dan pembusukan. Tapi hal ini tidak sesuai dengan pola umum yang kita amati di alam. Konsep "entropi" itu sendiri, di luar batasan ketat termodinamika, adalah konsep yang sangat problematik.

"Para fisikawan yang berpikir tentang tata-kerja termodinamika menyadari betapa mengganggunya persoalan tentang, seperti yang dikemukakan seseorang, 'bagaimana satu aliran enerji yang tidak memiliki tujuan tertentu dapat mendamparkan kehidupan dan kesadaran ke dunia.' Untuk memperberat kesulitannya, datanglah konsep tentang entropi, cukup terdefinisi secara rasional untuk tujuan-tujuan termodinamik dalam bentuk panas dan suhu, tapi sungguh sulit dipegang sebagai satu ukuran bagi ketidakteraturan. Para fisikawan telah cukup mendapat kesulitan untuk mengukur tingkat keteraturan pada air, yang membentuk struktur kristalin dalam perubahannya menjadi es, enerji meleleh keluar selama proses itu. Tapi entropi termodinamik gagal sepenuhnya sebagai satu ukuran atas perubahan derajat bentuk dan tanpa bentuk dalam pembentukan asam amino, mikroorganisme, hewan dan tumbuhan yang dapat mereproduksi dirinya sendiri, atau sistem informasi kompleks seperti otak. Tentu pulau-pulau keteraturan yang berevolusi ini harus mematuhi pula hukum kedua itu. Hukum yang penting, hukum tentang penciptaan, terletak di tempat lain."[v]

Proses fusi nuklir adalah sebuah contoh, bukan dari peluruhan, tapi dari pembangunan jagad. Hal ini telah ditunjukkan di tahun 1931 oleh H. T. Poggio, yang mengingatkan para nabi kiamat termodinamis bahwa mereka telah secara ilegal mengekstrapolasi satu hukum yang berlaku hanya pada batas tertentu di bumi pada seluruh jagad raya.

"Janganlah kita terlampau yakin bahwa jagad raya ini seperti sebuah jam yang selalu semakin lambat jalannya. Di sana-sini mungkin ada mekanisme untuk memutar lagi pegas jam itu."[vi]

Hukum kedua termodinamika mengandung dua unsur dasar - satu negatif dan satu positif. Yang pertama menyatakan bahwa proses-proses tertentu adalah mustahil (misal, bahwa panas mengalir dari sumber yang panas menuju yang dingin, tidak pernah sebaliknya) dan yang kedua (yang diturunkan dari yang pertama) menyatakan bahwa entropi adalah ciri yang niscaya dari semua sistem yang terisolasi. Dalam sebuah sistem yang terisolasi, semua situasi yang tidak setimbang akan menghasilkan satu evolusi menuju satu keadaan setimbang. Termodinamika tradisional melihat hanya melihat pergerakan ke arah ketidakteraturan dalam entropi. Hal ini ternyata hanya merujuk pada sistem yang sederhana dan terisolasi (misal, sebuah mesin uap). Interpretasi baru dari Prigogine atas Teori Boltzmann jauh lebih luas, dan berbeda secara radikal dari interpretasi tradisional itu.

Reaksi kimia terjadi sebagai hasil tumburan antar molekul. Normalnya, tumburan itu tidak membawa satu perubahan keadaan; molekul-molekul hanya bertukar enerji. Walau demikian, kadang kala, satu tumburan menghasilkan perubahan pada molekul-molekul yang terlibat (satu "tumburan reaktif"). Reaksi-reaksi ini dapat dipercepat oleh hadirnya sebuath katalis. Dalam organisme hidup, katalis ini adalah protein-protein khusus, yang disebut enzim. Ada segala macam alasan untuk percaya bahwa proses ini memainkan peranan penting dalam munculnya kehidupan di bumi. Apa yang nampak sebagai kacau, pergerakan molekul yang sepenuhnya acak, pada titik tertentu mencapai tahap kritis di mana kuantitas tiba-tiba berubah menjadi kualitas. Dan ini adalah sifat hakiki dari segala bentuk materi, bukan hanya yang organik melainkan juga yang anorganik.

"Yang mengagumkan, persepsi tentang arah waktu meningkat sejalan dengan peningkatan level pengorganisiran biologis dan mungkin mencapai titik puncaknya pada kesadaran manusia."[vii]

Tiap organisme hidup menggabungkan keteraturan dan aktivitas. Sebaliknya, satu kristal dalam keadaan setimbang memiliki struktur tapi diam. Di alam, kesetimbangan bukanlah satu keadaan normal tapi, mengutip Prigogine, "satu keadaan yang jarang dan tidak pasti terjadi". Keadaan yang bukan kesetimbangan adalah norma yang berlaku di alam. Dalam sistem yang sederhana dan terisolasi seperti sebuah kristal, kesetimbangan dapat dipelihara untuk waktu yang lama, bahkan selama-lamanya. Tapi persoalannya berubah ketika kita berurusan dengan proses yang kompleks, seperti mahluk hidup. Satu sel hidup tidak dapat dijaga dalam keadaan setimbang, dia akan mati. Proses yang mengatur munculnya kehidupan bukanlah proses yang sederhana dan linear, tapi dialektik, melibatkan lompatan-lompatan mendadak, di mana kuantitas berubah menjadi kualitas.

Reaksi kimia "klasik" dilihat sebagai satu proses yang sangat acak. Molekul-molekul yang terlibat tersebar merata secara "normal", yaitu sesuai dengan kurva Gauss. Jenis reaksi seperti ini cocok pada konsep Boltzmann, di mana semua rantai-samping dari reaksi akan lenyap dan reaksi akan berakhir dalam sebuah reaksi yang stabil, satu kesetimbangan yang tidak bergeser lagi. Walau demikian, pada dekade mutakhir, telah ditemukan reaksi kimia yang menyimpang dari konsep yang ideal dan disederhanakan ini. Reaksi-reaksi ini dikenal sebagai nama umumnya, "jam kimiawi". Contoh yang paling terkenal adalah reaksi Belousov-Zhabotinsky, dan model Brussel yang diciptakan oleh Ilya Prigogine.

Termodinamika linear menggambarkan satu perilaku sistem yang stabil dan dapat diramalkan, yang cenderung menuju satu tingkat aktivitas minimum yang dimungkinkan. Walau demikian, ketika gaya-gaya termodinamik yang bekerja pada sebuah sistem mencapai titik di mana wilayah linear telah dilewati, stabilitas tidak akan dapat dipertahankan. Turbulensi muncul. Untuk waktu yang lama, turbulensi dianggap sebagai sebuah sinonim atas kata ketidakteraturan atau chaos. Tapi kini telah ditemukan bahwa apa yang nampak sebagai keteraturan yang kacau pada tingkat makroskopik, pada kenyataannya, sangat terorganisir di tingkat mikroskopik.

Kini, telaah atas ketidakstabilan kimiawi telah menjadi hal yang jamak. Salah satu yang paling menarik adalah penelitian yang dilakukan di Brussels di bawah bimbingan Ilya Prigogine. Telaah atas apa yang terjadi di luar batas kritis di mana ketidakstabilan kimiawi dapat terjadi memiliki makna yang sangat penting dari sudut dialektika. Salah satu gejala yang terpenting adalah apa yang disebut "jam kimiawi". Model Brussels (yang dijuluki "Brusselerator" oleh para ilmuwan Amerika) menggambarkan perilaku dari molekul-molekul gas. Anggaplah ada dua jenis molekul, "merah" dan "biru", dalam sebuah pergerakan yang chaos, acak sepenuhnya. Kita akan mengharapkan bahwa, pada titik tertentu akan terjadi satu distribusi tidak teratur dari molekul-molekul, menghasilkan satu warna "ungu", dengan warna merah atau biru sekilas muncul di sana-sini. Tapi, dalam sebuah jam kimiawi, hal ini tidak terjadi jika titik kritis tertentu telah dilewati. Sistem itu seluruhnya biru, lalu seluruhnya merah, dan pergantian ini terjadi dengan jarak waktu yang teratur.

"Tingkatan keteraturan semacam itu, yang muncul dari aktivitas milyaran molekul, kelihatannya menakjubkan," ujar Prigogine dan Stengers, "dan sesungguhnya, jika jam kimiawi tidak pernah muncul dalam pengamatan, tidak akan ada yang pernah percaya bahwa proses tersebut dimungkinkan. Untuk menukar warna seluruhnya sekaligus, molekul-molekul itu harus memiliki satu cara untuk 'berkomunikasi'. Sistem itu harus bertindak sebagai sebuah keseluruhan. Kami akan kembali lagi dan lagi pada kata kunci ini, berkomunikasi, yang memainkan peranan sangat mencolok di berbagai bidang, dari kimia sampai fisiologi-syaraf. Struktur pelepasan panas [disipatif] barangkali merupakan salah satu mekanisme fisik paling sederhana untuk berkomunikasi."

Gejala "jam kimiawi" menunjukkan bagaimana keteraturan dapat muncul secara spontan dari kekacauan di alam pada titik tertentu. Ini adalah satu pengamatan yang penting, khususnya dalam hubungannya pada cara di mana kehidupan muncul dari materi anorganik.

"Model 'keteraturan yang muncul dari fluktuasi' memperkenalkan satu dunia yang tidak stabil di mana perubahan kecil dapat menghasilkan efek yang besar, tapi dunia semacam ini tidaklah acak. Sebaliknya, alasan untuk pembesaran efek dari kejadian kecil adalah persoalan yang sah untuk diselidiki secara rasional."

Dalam teori klasik, reaksi kimia terjadi dalam cara yang teratur secara statistik. Normalnya, terjadilah satu pemusatan rata-rata molekul, dengan satu distribusi yang merata. Nyatanya, pemusatan-pemusatan lokal muncul di sana-sini, pemusatan yang mengorganisir diri mereka sendiri. Hasilnya sangat tidak terduga dari sudut pandang teori tradisional. Titik-titik fokus ini dari apa yang disebut Prigogine sebagai "organisasi-diri" ini dapat mengkonsolidasikan diri mereka sampai titik di mana mereka dapat mempengaruhi sistem secara keseluruhan. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai satu gejala sampingan kini terbukti sangat menentukan. Pandangan tradisional menganggap proses yang tidak dapat dibalik sebagai satu gangguan, yang disebabkan oleh gesekan dan lain-lain sumber kebocoran panas pada mesin. Tapi situasinya telah berubah. Tanpa proses-proses yang tidak dapat dibalik seperti itu, kehidupan mustahil akan muncul. Pandangan lama tentang ireversibilitas sebagai sebuah gejala yang subjektif (sebuah hasil dari ketidaktahuan) kini telah mendapat tentangan yang keras. Menurut Prigogine, ireversibilitas hadir dalam segala tingkatan, baik yang mikroskopis maupun makroskopis. Baginya, hukum kedua termodinamika membawa kita pada konsep baru tentang materi. Dalam satu keadaan bukan-kesetimbangan, keteraturan muncul. "Keadaan bukan-kesetimbangan membuat keteraturan lahir dari kekacauan
by Alan Woods and Ted Grant Tuesday, 25 March 2008
| | 0 komentar Read More...

Sejarah Filsafat Eropa

Sebuah Pengantar
Sejarah Singkat
Dilihat dari pendekatan historis, ilmu filsafat dipahami melalui sejarah perkembangan pemikiran filsafat. Menurut catatan sejarah, filsafat Barat bermula di Yunani. Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad VI SM. Perkembangan pemikiran ini menandai usaha manusia untuk mempergunakan akal dalam memahami segala sesuatu. Pemikiran Yunani sebagai embrio filsafat Barat berkembang menjadi titik tolak pemikiran Barat abad pertengahan, modern dan masa berikutnya. Di samping menempatkan filsafat sebagai sumber pengetahuan,
Barat juga menjadikan agama sebagai pedoman hidup, meskipun memang harus diakui bahwa hubungan filsafat dan agama mengalami pasang surut. Pada abad pertengahan misalnya dunia Barat didom inasi oleh dogm atism egereja (agama), tetapi abad modern seakan terjadi pembalasan Akibatnya, Barat mengalami kekeringan spiritualisme. Namun selanjutnya, Barat kembali melirik kepada peranan agama agar kehidupan mereka kembali memiliki makna.
Secara garis besar, perkembangan sejarah filsafat dibagi dalam lima tahap:
1. Filsafat Yunani Klasik
2. Filsafat Yunani
3. Filsafat Abad Pertengahan
4. Filsafat Modern
5. Filsafat Posmodern

• Yunani Kuno
Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dim iliki bangsa Yunani.
Kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan. terhadap agama. Peran agama dimasa modern digantikan ilmu-ilmu positif
Pada m asa Yunani kuno, filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM ).
Demikian juga Phitagoras (572-500 SM ) belum murni rasional. Pada masa Yunani Klasik, pertanyaan-pertanyaan yang berkembang adalah pertanyaan yang berhubungan alam semesta. Ini berangkat dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, ketika manusia melihat segala sesuatu yang ada di sekeliling mereka, muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai segala sesuatu itu. Begitupun para filsuf zaman Yunani klasik ini. Mereka mempertanyakan hakikat kehidupan ini. Sebagai contoh, Thales, salah seorang filsuf yang hidup pada masa itu, mendapatkan kesimpulan bahwa penyebab pertama kehidupan adalah air karena ia melihat adanya kehidupan ini karena ada air.

• Filsafat Yunani
Filsafat zaman Yunani ini diwakili oleh Plato dan Aristoteles. Pada zaman ini, pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan mulai berkembang. Mereka tidak lagi hanya melihat keluar (oustside), akan tetapi juga mulai melihat ke dalam (inside). Persoalan tentang manusia mulai dipertanyakan. Misalnya, apa hakikat manusia? Dari mana manusia berasal? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut lahirlah suatu jaw aban. Salah satunya adalah jawaban yang muncuk dari Plato bahwa hakikat manusia itu terdiri dari tubuh dan jiwa. Secara struktur, jiwa lebih tinggi dari tubuh. Menurut Plato, tubuh menjadi penjara jiwa. Jiwa akan bebas ketika ia lepas dari tubuhnya. Sementara itu, Aristoteles mengatakan hakikat manusia tidak terpisah antara tubuh dan jiwa. Tidak ada yang lebih tinggi secara struktur. Manusia terdiri dari forma dan materi.

• Abad Pertengahan
Filsafat abad pertengahan lahirnya agama sebagai kekuatan baru. Banyak filsuf yang lahir dari latar belakang rohaniwan. Dengan lahirnya agama-agama sebagai kekuatan baru, wahyu menjadi otoritas dalam. menentukan kebenaran. Sejak gereja (agama) mendominasi, peranan akal (filsafat) menjadi sangat kecil. Karena, gereja telah membelokkan kreatifitas akal dan mengurangi kemampuannya. Pada saat itu, pendidikan diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan "The Scholastics", sehingga periode ini disebut dengan masa skolastik. Para filosof aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan filosofisnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang telah diterima dari gereja secara rasional.
Di antara filosof skolastik yang terkenal adalah Augustinus ( 354-430). Menurutnya, dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dari yang tidak ada (creatioex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan.
Ciri khas filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus (1033--1109), yaitu credo utintelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat rasional yang lebih mendahulukan pengertian dari pada iman.

• Filsafat Modern
Masa filsafat modern diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad XV dan XVI M, yang bermaksud lepas dari dogma-dogma, akhirnya muncul semangat perubahan dalam kerangka berfikir. Problem utama masa Renaissance, sebagaimana periode skolastik, adalah sintesa agama dan filsafat dengan arah yang berbeda. Era Renaissance ditandai dengan tercurahnya perhatian pada berbagai bidang kemanusiaan, baik sebagai individu maupun sosial.
Diantara filosof masa Renaissance adalah Francis Bacon (1561-1626). Ia berpendapat bahwa filsafat harus dipisahkan dari teologi. Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat menunjukkan Tuhan, tetapi ia menganggap bahwa segala sesuatu yang bercirikan lain dalam teologi hanya dapat diketahui dengan wahyu, sedangkan wahyu sepenuhnya bergantung pada penalaran. Hal ini menunjukkan bahwa Bacon termasuk orang yang membenarkan konsep kebenaran ganda (double truth), yaitu kebenaran akal dan wahyu. Puncak masa Renaissance muncul pada era Rene Descartes (1596-1650) yang dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern dan pelopor aliran Rasionalisme. Argumentasi yang dimajukan bertujuan untuk melepaskan dari kungkungan gereja. Salah satu semboyannya "cogito ergo sum" (saya berpikir maka saya ada). Pernyataan ini sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran modern, karena dianggap mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran sebagai indikasi eksistensi setiap individu. Dalam hal ini, filsafat kembali mendapatkan kejayaannya dan mengalahkan peran agama, karena dengan rasio manusia dapat memperoleh kebenaran. Kemudian muncul aliran Empirisme, dengan pelopor utamanya, Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. Aliran ini juga menekankan pengenalan inderawi sebagai bentuk pengenalan yang sempurna.
Di tengah bergemanya pemikiran rasionalisme dan empirisme, muncul gagasan baru di Inggris, yang kemudian berkembang ke Perancis dan akhirnya ke Jerman. Masa ini dikenal dengan Aufklarung atau Enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M. Pada masa Aufklarung ini muncul keinginan manusia modern menyingkap misteri dunia dengan kekuatan akal dan kebebasan berpikir. Tokoh filsuf yang sangat mengagungkan kekuatan akal dan dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern adalah Rene Descartes. Pada abad ini dirumuskan adanya keterpisahan rasio dari agama, akal terlepas dari kungkungan gereja, sehingga Voltaire (1694-1778) menyebutnya sebagai the age of reason (zaman penalaran). Sebagai salah satu konsekuensinya adalah supremasi rasio berkembang pesat yang pada gilirannya mendorong berkem bangnya filsafat dan sains. Periode filsafat modern di Barat menunjukkan adanya pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan diporak-porandakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad modern merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi gereja.

• Posmodernisme
Filsafat postmodern ditandai dengan keinginan untuk mendobrak sifat-sifat filsafat modern yang mengagungkan keuniversalitasan, kebenaran tunggal, dan kebebasnilaian. Karena itu, filsafat postmodern sangat mengagungkan nilai-nilai relativitas dan mininarasi, berbeda dengan filsafat modern yang mengagungkan narasi-narasi besar. Filsafat postmodern cenderung lebih beragam dalam hal pemikirian.
Pada awal abad XX, di Inggris dan Amerika muncul aliran Pragmatisme yang dipelopori oleh William Jam es (1842-1910). Sebenarnya, Pragmatisme awalnya diperkenalkan oleh C.S. Pierce (1839-1914). Menurutnya, kepercayaan menghasilkan kebiasaan, dan berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan yang dihasilkan. Oleh karena itu, kepercayaan adalah aturan bertindak. William James berpendapat bahwa teori adalah alat untuk memecahkan masalah dalam pengalaman hidup m anusia. Karena itu, teori dianggap benar, jika teori berfungsi bagi kehidupan manusia. Sedangkan agama, menurutnya, mempunyai arti sebagai perasaan (feelings), tindakan (acts) dan pengalaman individu manusia ketika mencoba memahami hubungan dan posisinya di hadapan apa yang m ereka anggap suci. Dengan demikian, keagam aan bersifat unik dan membuat individu menyadari bahwa dunia merupakan bagian dari system spiritual yang dengan sendirinya memberi nilai bagi atau kepadanya. Agak berbeda dengan William James, tokoh Pragmatisme lainnya, John Dewey (1859-1952) menyatakan bahwa tugas filsafat yang terpenting adalah memberikan pengarahan pada perbuatan manusia dalam praktek hidup yang harus berpijak pada pengalaman.
Pada saat yang bersamaan, juga berkembang aliran Fenomenologi di Jerman yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Menurutnya, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar ialah dengan menggunakan intuisi langsung, karena dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat. Baginya, Fenomenologi sebenarnya merupakan teori tentang fenomena; ia mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri. Pada abad tersebut juga lahir aliran Eksistensialisme yang dirintis oleh Soren Kierkegaard (1813-1855).
| | 0 komentar Read More...

Cabang-cabang filsafat

Sekalipun bertanya tentang seluruh realitas, filsafat selalu bersifat "filsafat tentang" sesuatu: tentang manusia, tentang alam, tentang kebudayaan, kesenian, bahasa, hukum, agama, sejarah,
Semua selalu dikembalikan ke empat bidang induk:

- filsafat tentang pengetahuan:
obyek material : pengetahuan ("episteme") dan kebenaran
epistemologi;
logika;
kritik ilmu-ilmu;
- filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan:
obyek material : eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakekat)
metafisika umum (ontologi);
metafisika khusus:
antropologi (tentang manusia);
kosmologi (tentang alam semesta);
teodise (tentang tuhan);
- filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan:
obyek material : kebaikan dan keindahan
etika;
estetika;
- sejarah filsafat.
| | 0 komentar Read More...

Perkembangan Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu berkembang dari masa ke masa sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta realitas sosial. Dimulai dengan aliran rasionalisme-emprisme , kemudian kritisisme dan positivisme.
Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan dan analisis yang berdasarkan fakta. Paham ini menjadi salah satu bagian dari renaissance atau pencerahan dimana timbul perlawanan terhadap gereja yang menyebar ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa diterima oleh logika. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal sebagai sumber dari segala pembenaran. Segala sesuatu harus diukur dan dinilai berdasarkan logika yang jelas. Titik tolak pandangan ini didasarkan kepada logika matematika. Pandangan ini sangat popular pada abad 17. Tokoh-tokohnya adalah Rene Descartes (1596-1650), Benedictus de Spinoza – biasa dikenal: Barukh Spinoza (1632-1677), G.W. Leibniz (1646-1716), Blaise Pascal (1623-1662).

Empirisisme adalah pencarian kebenaran melalui pembuktian-pembukitan indrawi. Kebenaran belum dapat dikatakan kebenaran apabila tidak bisa dibuktikan secara indrawi, yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Francis Bacon (1561-1624) seorang filsuf Empirisme pada awal abad Pencerahan menulis dalam salah satu karyanya Novum Organum: Segala kebenaran hanya diperoleh secara induktif, yaitu melalui pengalamn dan pikiran yang didasarkan atas empiris, dan melalui kesimpulan dari hal yang khusus kepada hal yang umum. Empirisisme muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap superioritas akal. Paham ini bertolak belakang dengan Rasionalisme yang mengutamakan akal. Tokoh-tokohnya adalah John Locke (1632-1704); George Berkeley (1685-1753); David Hume (1711-1776). Kebenaran dalam Empirisme harus dibuktikan dengan pengalaman. Peranan pengalaman menjadi tumpuan untuk memverifikasi sesuatu yang dianggap benar. Kebenaran jenis ini juga telah mempengaruhi manusia sampai sekarang ini, khususnya dalam bidang Hukum dan HAM.

Kedua aliran ini dibedakan lewat caranya untuk mencari kebenaran rasionalisme didominasi akal sementara empirisisme didominasi oleh pengalaman dalam pencarian kebenaran. Kedua aliran ini secara ekstrim bahkan tidak mengakui realitas di luar akal, pengalaman atau fakta. Superioritas akal menyebabkan agama dilempar dari posisi yang seharusnya. Agama didasarkan pada doktrin-dokrtin yang tidak bisa diterima oleh rasio sehingga tidak diterima oleh para pemegang paham rasionalisme dan empirisisme. Bukan berarti dogma yang diajarkan agama itu tidak benar, tapi rasio manusia masih terbatas untuk menguji kebenaran dogma Tuhan. Munculah aliran kritisisme sebagai jawaban dari rasionalisme dan empirisisme untuk menyelamatkan agama.

Kritisisme merupakan filsafat yang terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio sebelum melakukan pencarian kebenaran. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Immanuel Kant (1724-1804). Filsafatnya dikenal dengan Idealisme Transendental atau Filsafat Kritisisme. Menurutnya, pengetahuan manusia merupakan sintesa antara apa yang secara apriori sudah ada dalam kesadaran dan pikiran dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman (aposteriori).

Filsafat positivisme membatasi kajian filsafat ke hal-hal yang dapat di justifikasi (diuji) secara empirik. Hal-hal tersebut dinamakan hal-hal positif. Positivisme digunakan untuk merumuskan pengertian mengenai relaita sosial dengan Penjelasan ilmiah, prediksi dan control seperti yang dipraktekan pada fisika, kimia, dan biologi. Tahap penelitian positivisme dimulai dengan pengamatan, percobaan, generalisasi, produksi, manipulasi.

Krisis Sains
Perkembangan sains sampai ke abad 20 membawa manusia ke tingkat yang lebih tinggi pada kehidupannya. Level pemahaman terhadap alam mencapai tingkat level yang lebih tinggi. Pengamatan alam sudah sampai ke level mikroskopis, ternyata pengamatan pada level mikroskopis mementahkan hukum-hukum fisika yang pada saat itu menajdi pijakan ilmu fisika. Hukum-hukum fisika klasik seperti mekanika dan gravitasi dimentahkan oleh perilaku elektron dan proton yang acak tapi teratur. Penemuan-penemuan baru pada bidang fisika pada level mikroskopis merubah pandangan ilmuwan pada saat itu mengenai alam secara keseluruhan. Tenyata sains merupakan ilmu yang tidak pasti, ada ketidakpastian dalam kepastian terutama pada level mikroskopis dimana ketidakpastian itu semakin besar. Pada masa ini terjadi pergeseran paradigma dari paradigma Newtonian ke paradigm pos Newtonian. Perubahan paradigma ini merupakan revolusi pada bidang fisika, yang melahirkan tokoh-tokoh baru seperti Einstein dan Heisenberg
Objek
Paradigma Newtonian
Paradigma Pos Newtonian
Alam
Mesin
Sistem / jaringan
Fenomena objek
Interaksi benda
Transformasi objek
Ruang, waktu
Datar, tak berbatas
Melengkung, tak berbatas
Kekuatan alam
Determenistik, realistik
Indeterministik, anti-realistik
Werner Heisenberg mengajukan teori ketidakpastian yang menyatakan tidak mungkin mengukur secara teliti suatu partikel secara stimultan dalam ruang dan waktu. Teori ini bukan hanya menjungkirbalikan teori fisika klasik yang dikembangkan oleh Newton, namun juga mengubah cara pandang berbagai disiplin ilmu terhadap sifat alam yang tadinya dianggap determentstik (dapat ditentukan) menjadi indeterminsitik (tidak dapat ditentukan). Teori ini menjadi landasan fisika kuantum. Perubahan paradigma terhadap alam mengubah arah perkembangan teknologi. Namun perkembangan teknologi yang revolusioner malah menjadi petaka bagi seluruh umat manusia, puncaknya ketika Albert Einstein menemukan bom atom dan digunakan oleh manusia untuk menghancurkan kota Hirosima dan Nagasaki. Dunia terkejut oleh kemampuan sains yang bukan hanya memudahkan manusia, namun juga menghancurkan. Pada tahap ini mulai dipertanyakan peranan sains dalam menuju kehidupan manusia yang lebih baik. Kritik mulai dilontarkan terhadap sains karena ternyata kemajuan sains belum tentu memajukan kemanusiaan di muka bumi.

Cendawan atom dan korban Bom atom Hiroshima
Sains memiliki tiga sifat utama yaitu netral, humanistik dan universal. Namun pada perkembangannya ternyata sains tidak netral, humanistik dan universal. Sains sangat tergantung pada kondisi ekonomi, sehingga pemilik modal dapat mengarahkan perkembangan sains. Pada masa perang dunia II sains memberi kontribusi besar pada kematian umat manusia lewat penemuan senjata pemusnah masal. Sains juga kehilangan sifat netralnya karena pengembangan sains sangat tergantung dari pemilik modal. Sains berpihak kepada pemilik modal.

Sains bersifat humanistik yaitu manusia sebagai pusat dari segalanya. Ternyata pandangan ini malah menghancurkan manusia. Kemajuan sains seiring dengan kemajuan teknologi. Teknologi sangat menguntungkan manusia karena bersifat memudahkan. Teknologi membutuhkan sumber daya yang diambil dari alam dan teknologi juga menghasilkan limbah yang sulit diuraikan aoleh sistem alam. Eksploitasi sumber daya alam berlebih mengakibatkan keseimbangan lingkungan terganggu yang menjadikan Bumi rentan terhadap bencana. Limbah hasil industri diketahui berbahaya bagi manusia, sehingga menimbulkan kanker yang membunuh jutaan manusia tiap tahunnya.

Sains hanya alat untuki mencapai sesuatu, namun dasar motivasi untuk mencapai suatu hal adalah hal yang berbeda. Akal budi lebih berperan untuk menentukan arah tujuan sains tersebut. Perkembangan dari sains seharusnya diikuti dengan perkembangan akal budi agar tercipta kehidupan manusia yang lebih baik.
| | 0 komentar Read More...